Perang Gula Semut
Maret 30, 2007
Jumat siang ini, seperti biasa kami praktikum mata kuliah Pati dan Gula. Dan seperti biasa, para cewek datang lebih dahulu dibanding para cowok yang harus shalat Jumat. Praktikum kali ini adalah membuat gula invert dan gula semut.
Kelompok kami mendapat giliran membuat gula semut dari gula kelapa, setelah seminggu sebelumnya kami membuat gula invert. Untuk membuat gula semut, kami membutuhkan wajan, pengaduk, ayakan, dan baskom. Bahan yang dibutuhkan adalah gula kelapa, gula pasir, air, dan santan atau minyak nabati. Sebenarnya, untuk membuat gula semut asli, dibutuhkan nira kelapa. Tetapi karena berbagai keterbatasan yang ada, kami memakai gula kelapa jadi saja.
Masalah pertama adalah kami kekurangan kompor untuk memanaskan larutan gula. Selain itu, gas untuk bahan bakar kompor juga habis. Jadilah kami berebut kompor. Hehehe, jadi kayak arena para cewek perang kompor saja, begitu pikirku geli. Akhirnya kami bergiliran memanaskan larutan gula (tentunya dengan banyak tawa dan canda yang membuat laboran kami geleng-geleng kepala tak habis pikir).
Larutan gula dipanaskan hanya supaya gula itu melarut dan homogen. Kami memutuskan untuk mendiamkan larutan itu, tidak memanaskannya lebih lanjut, selain takut gula itu mengalami karamelisasi, kami juga menunggu para cowok datang. Membuat gula semut itu secara keseluruhan mudah dan cepat, tetapi proses akhirnya itu yang bermasalah. Untuk membentuk kristal gula yang bagus, adonan gula kental yang telah diberi santan dan gula pasir sebagai biang, harus segera didinginkan dan diaduk kuat-kuat. Tentunya tenaga cewek tidak bisa menangani masalah semacam itu. Kami tetap butuh tenaga cowok untuk mengaduk.
Pukul 1 lewat, para cowok datang dari masjid setelah shalat Jumat (mana saat itu hujan deras lagi). Kami mulai memanaskan gula dan menambahkan santan. Setelah terlihat mengental kami pun menambahkan gula pasir biang …..dengan cerobohnya. Ternyata larutan gula itu belum cukup kental dan matang untuk ditambahi gula pasir biang. Hasilnya, kami harus bekerja ekstra keras pada saat pengadukan akhir.
Adonan gula kental yang terbentuk kami aduk kuat-kuat, tetapi kristal gula yang terbentuk tidaklah kecil dan halus seperti yang diharapkannya, melainkan besar-besar dan bergumpal. “Wah, gagal nih,” gumamku lemas.
“Heh! Jangan nyerah dong. Ayo tetap aduk!” Ichsan dan yang lainnya tetap bersemangat mengaduk gula kami yang kacau. Akhirnya aku pun kembali mengaduk sambil pesimis gula itu akan mengecil ukurannya.
Lama kami mengaduk, ditingkahi ribut suara wajan beradu dengan pengaduk, ukuran gula itu tidak juga menjadi halus, malahan semakin menggumpal. Akhirnya aku meminjam mortar dan ulekan sambal dari lab sebelah, dan mulai menggerusi gumpalan-gumpalan gula tersebut. “Alamak, keras banget sih,” kataku kesal sambil mengamati mortar yang ikut tertempeli endapan gula.
Akhirnya, dengan segala daya usaha kami berjuang, ukuran partikel gula itu dapat halus juga meskipun tidak semuanya. Laboran kami juga tidak keberatan dengan ukuran gula kami yang disebutnya “bukan gula semut, tapi gula kecoa” itu. Kami hanya bisa tertawa (sambil terengah-engah kelelahan) mendengar istilah gula kecoa itu.
Tidak hanya kami yang berjuang dengan pengaduk dan wajan gula kami. Beberapa kelompok lain juga berjuang dengan adonan gula mereka, meskipun tidak separah kami. Suara pengaduk kayu beradu dengan wajan logam berdentang-dentang riuh rendah, canda tawa bersahut-sahutan, obrolan ngalor ngidul, semua itu menambah keramaian lab TK menjelang sore itu. Benar-benar perang gula yang mengasyikkan!
Sungguh menyenangkan berkumpul bersama kawan-kawan dan melakukan praktikum Pati dan Gula yang heboh ini. Mungkin hal ini akan selalu menjadi kenangan indah kami semua, perang gula semut ini, baik setelah kami lulus maupun jauh setelah kami tua nanti.
Untuk :
- Kawan-kawan lab seperjuanganku dalam praktikum Pati dan Gula ini : Ichsan, Nova, Tutu, Kak Fanani, Kak Frans, dan Supardi; tetap berjuang bersama dalam perang gula dan pati ini.
- Laboran kami, Bu Rini; maaf ya Bu, kami sering bikin ribut di lab dan membuat Ibu jengkel.
- Kawan-kawan sesama praktikum yang tak bisa disebut satu per satu; mari kita sama-sama berjuang.
Dengan penuh cinta,
Dea.
PENGLIHATAN
Maret 30, 2007
Pertama kalinya aku dapat melihat roh adalah 10 tahun yang lalu. Wujud pertama roh itu mula-mula hanya berupa gumpalan kabut hitam, namun makin hari wujud itu makin jelas, membentuk sosok seorang gadis kecil.
Bagiku yang saat itu masih berumur 5 tahun, penampakan roh itu tidaklah terlalu menakutkan. Toh aku juga belum paham makna roh dan kematian itu sesungguhnya. Aku menganggap roh gadis kecil yang mengaku bernama Luna itu sebagai kawanku. Bisa dibilang dialah kawanku yang pertama.
Aku mulai paham bahwa Luna bukanlah makhluk yang sejenis denganku ketika orang-orang di sekitarku mulai mengomentari tingkahku mengajak Luna berbincang-bincang sebagai tingkah orang gila. Aku membantahnya dengan keras dan mengatakan bahwa aku sedang mengobrol dengan kawanku. Tatkala mereka bertanya di manakah kawanku itu, aku menunjuk Luna yang duduk di hadapanku, dan mengatakan bahwa kawanku ada disitu.
Tetapi mereka tidak dapat melihat Luna dan dengan begitu mereka tidak percaya padaku. Mereka berpaling dariku dan menyebutku abnormal, gila. Kata mereka, aku anak gila, sinting, abnormal. Dan dengan segera mereka melarang anak-anak mereka berhubungan denganku, sampai akhirnya aku tidak lagi memiliki kawan sebaya. Hanya tinggal Luna bersamaku. Hanya Luna.
Suatu kali aku pernah bertanya padanya, mengapa orang-orang tak bisa melihatnya dan tidak percaya bahwa dia ada.
“Aku tak tahu,” katanya sendu.
“Padahal kamu sungguh-sungguh ada dan kamu anak baik. Aku juga anak baik. Aku tak merasa mengganggu siapa pun. Tetapi mengapa mereka bersikap begitu kepada kita?”
“Mereka punya alasan sendiri.”
“Alasan apa?”
“Manusia tidak percaya pada apa yang tidak bisa dilihat dan disentuhnya.”
Aku kurang mengerti kata-katanya.
“Tetapi aku bisa melihat dan menyentuhmu.”
“Karena itu kamu percaya akan keberadaanku.”
Aku diam seribu basa. Kupeluk dia dan dia balas memelukku. Dia ada; terasa nyata; aku bisa melihatnya dan bisa menyentuhnya seperti ini. Aku percaya dia nyata. Mengapa mereka tidak?
“Aku sayang kamu, Luna.”
“Aku juga, Kevin.”
*
Hanya ibuku yang tidak pernah menganggapku aneh. Beliau membiarkanku saja ketika aku dan Luna asyik bermain dan mengobrol. Beliau bahkan ikut menimpali apabila kami tengah bercanda bersama. Karena itu aku yakin bahwa ibuku bisa melihat Luna. Dan aku yakin beliau percaya bahwa dia ada; dan nyata.
“Ibu bisa melihat Luna?” tanyaku suatu hari ketika Luna sedang tidak bersamaku. Ibuku sedang sibuk membuat kue di dapur dan aku duduk di kursi tinggi di sampingnya, menemaninya.
“Bisa,” katanya, tersenyum lembut padaku.
“Sungguh?”
“Ya.”
“Cantikkah dia, menurut ibu?”
“Ya, dia cantik.”
“Lembutkah dia?”
“Ya, dia lembut.”
“Ibu percaya dia sungguh-sungguh ada, ‘kan?”
“…Ya, ibu percaya.”
“Kalau begitu, mengapa mereka tidak percaya bahwa Luna ada? Mereka, orang-orang itu?”
“Karena mereka tak mampu merasakan keberadaan Luna, Nak.”
“Mengapa?”
“Mereka tidak memiliki kemampuan seperti kita, Nak.”
“Kemampuan?”
“Kemampuan melihat seperti halnya yang kita miliki. Mata kita adalah mata istimewa.”
“Mata kita? Istimewa?”
“Ya. Mata kita. Kita dianugerahi mata yang sangat sensitif.”
“Sensitif?”
“Ya. Jadi, kita mampu melihat Luna, dan merasakan keberadaannya.”
Aku terdiam. Penjelasan ibu saat itu agak sukar kucerna.
“Bu, Luna itu sama dengan kita ‘kan? Wujudnya sama…”
Ibu tersenyum. “Wujudnya memang sama, tetapi dia tidak sama dengan kita. Luna itu hantu.”
“Hantu?”
“Roh orang yang sudah meninggal, Nak.”
“Meninggal?”
“Sudah tidak ada di dunia ini lagi.”
Aku terkejut. Kugelengkan kepala kuat-kuat.
“Nggak!! Ibu bohong! Luna ada, dia ada di sini! Dia bukan hantu! Pasti bukan!”
“Dia punya masalah yang belum terselesaikan di dunia ini. Karena itu dia ada di sini.”
“Bohong! Luna bukan hantu!”
“Bagaimana jika kau tanyakan sendiri padanya?”
*
“Apa kamu hantu?”
Pertanyaan itulah yang pertama kali terlontar dari mulutku saat aku bertemu Luna lagi setelah pembicaraanku yang terakhir dengan ibu sore itu.
Dia memandangku sendu dan mengangguk. “Ya.”
“Kamu sudah meninggal?”
“Ya.”
“Seharusnya sudah tidak ada lagi di dunia ini?”
“Ya.”
Aku terdiam. Pilu.
“Ibu bilang bahwa kau punya urusan yang belum selesai di dunia ini…”
“Benar.”
“Urusan apa?”
Luna diam; ia melayang-layang, sesuatu yang hampir tak pernah kusadari sebelumnya. Kemudian dia menatapku sedih. Lama ia baru menjawab.
“Ibumu lebih mengerti urusanku.”
“Kau tak mau cerita padaku?”
“Kau tak akan mengerti.”
“Tapi kita ‘kan teman!”
“Meskipun begitu, kau masih terlalu kecil untuk mengerti masalahku.”
“Kau ‘kan juga masih kecil!” ujarku sengit. Memang dalam segi penampilan, dapat ditebak bahwa usia kami pasti tidaklah jauh berbeda.
Luna tersenyum tipis, misterius. “Apa yang kamu lihat belum tentu sesuai dengan kenyataan yang ada, Kevin.”
Aku tidak mengerti.
*
Setelah percakapan kami yang terakhir itu, aku tak pernah lagi bertemu Luna. Dia menghilang, tidak ada di manapun aku mencarinya.
Aku penasaran sekaligus sedih, dan akhirnya aku bertanya pada ibu.
“Bu, Ibu tahu di mana Luna?”
“Tahu.”
Aku terkejut.
“Sungguh?! Di mana dia? Aku tidak pernah melihatnya lagi sejak terakhir kami mengobrol, 2 hari yang lalu.”
“Dia di surga.”
“Surga?”
“Ya, urusannya di dunia ini sudah selesai, jadi dia sudah pergi ke surga dengan damai.”
“Mengapa Ibu tidak bilang padaku?”
“Karena dia bilang bahwa kau tidak perlu tahu.”
“Mengapa? Mengapa aku tidak perlu tahu?”
“Kelak kau akan mengerti, betapa beratnya berurusan dengan hal semacam ini. Luna mengerti hal ini dan dia tidak ingin kau mengalami kesusahan itu lebih awal.”
Aku diam menatap ibuku. Beliau tersenyum memandangku.
“Kelak kau akan mengerti. Luna tak ingin membebanimu dengan urusannya, maka dia mengajakmu bermain tanpa mengeluh sedikit pun.”
Aku masih diam menatap ibuku. Mataku terasa panas.
“Dia sungguh hantu yang baik.”
Aku menangis keras-keras. Aku tidak mengerti dengan semua ini, namun satu hal yang aku tahu : aku tidak akan pernah bertemu Luna lagi. Tidak akan pernah.
*
Sekarang aku sudah sangat terbiasa menghadapi berbagai macam hantu. Aku pun sudah cukup memahami ‘inti’ dari berbagai macam alasan dan urusan mereka. Meskipun begitu, aku masih tidak mengerti jawaban dari satu pertanyaan : mengapa harus aku yang memiliki kemampuan semacam ini?
“Penglihatan ini adalah suatu anugerah, Kevin.”
Kalimat ibu masih terngiang di benakku. Anugerah macam apa? Aku tersiksa karenanya.
Mungkin memang benar bahwa penglihatan ini adalah suatu anugerah. Dan memang benar bahwa penglihatan ini sedikit banyak telah membantuku. Namun, andai saja bisa, aku ingin dilahirkan kembali sebagai anak laki-laki biasa. Dari keluarga normal. Dengan kehidupan normal. Dengan panca indera, terutama mata yang normal.
Aku tidak butuh penglihatan ini. Karena sebesar apa pun usahaku untuk menutup mata, mereka masih terlihat di dalam benakku. Bayangan-bayangan menakutkan itu. Mimpi-mimpi buruk itu. Semua yang menghantuiku dan akan selalu menghantuiku. Tidak pernah lepas dari benakku. Semuanya karena penglihatan ini.
Di saat-saat menyesakkan, aku selalu teringat Luna. Andai saja dia ada di sini. Dia selalu menghiburku dengan senyumnya yang manis dan tawanya yang lucu. Dengan ucapannya yang segar dan polos. Dengan pelukannya yang hangat. Namun dia sudah tidak ada di sini lagi.
Aku juga selalu teringat ibu. Andai saja beliau ada di sini dan menghiburku dengan kata-katanya yang akan menguatkan hatiku. Ibu selalu berkata positif mengenai kemampuan kami. Mungkin karena ibu sudah lebih berpengalaman dalam hal ini. Aku sangat merindukan ibu. Namun ibu sudah tidak ada di sini lagi.
Kematian ibu yang pahit mengajariku untuk tetap bertahan dalam kondisi sesulit apa pun. Karena di balik semua masalah itu, pasti masih terselip harapan. Harapan untuk terus hidup. Harapan untuk hidup bahagia.
Sekarang aku tidak lagi mengeluh tentang penglihatanku ini. Aku sudah memutuskan untuk berdamai dengannya. Seterusnya aku selalu berpikir positif dalam memandang kehidupan, seperti halnya ibu. Dengan begitu, aku yakin, akan terbentang jalan bagiku untuk meraih kebahagiaan hidupku sendiri.
Fin
PISANG MOLEN HEBOH
Maret 30, 2007
Di kontrakanku, ada seorang teman yang menyambi berjualan pisang molen. Pisang molen yang dijualnya kami sebut sebagai pisang molen jumbo, karena ukurannya yang agak melebihi ukuran pisang molen normal. Rasanya juga tidak buruk, meskipun terasa agak ‘ngglepung’ (tebal; bertepung).
Ukurannya itu lho, yang sering jadi masalah. Setiap orang yang tertarik untuk membeli, pasti mundur teratur setelah melihat ukurannya yang jumbo. Atau membelinya setelah menemukan kawan untuk berbagi makan. Ada saja komentar dari orang-orang yang membeli (atau tidak jadi membeli dan hanya melihat sembari terkagum-kagum) pisang molen tersebut.
Suatu hari, aku baru saja pulang kuliah dan mendapati kawanku yang bernama Rubi sedang main di rumah. Ia duduk di sofa ruang tamu dan di hadapannya, di meja ruang tamu, ada nampan besar berisi pisang molen tersebut. Melirik nampan yang masih cukup penuh itu (padahal sudah sore, sedangkan molen itu diantarkan sejak pagi, jadi seharusnya sudah habis), aku berkomentar, “Lagi-lagi jualan Erna belum habis juga. Ukuran big mac sih.”
Rubi ikut mengamati molen itu dan akhirnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, ia menimpali, “Molen segede ini sih gak bisa buat kencan.”
Keheranan, aku bertanya padanya, “Mengapa begitu?”
“Habis, kalo cewek kencan bareng cowok kan, biasanya jadi jaim. Mau makan, mau ngapa-ngapain kan jaim. Tapi pas makan molen jumbo ini, gak bisa jaim dong. Kan makannya harus mangap lebar, biar bisa masuk satu gigitan. Gak jaim ah!”
Aku terlongong dan akhirnya ketawa kebahak-bahak. Begitu juga Rubi (yang geli setelah menyadari isi kata-katanya barusan). Ya ampun, bener juga sih. Kalo makan molen segede ini sih, harus tahan malu deh. Habis kalo makan sedikit-sedikit, gak puas. Sedangkan kalo makan sekaligus satu gigitan penuh, meskipun puas, engsel mulut harus bekerja ekstra.
Kali lain, ada juga kawan yang berkomentar bahwa bentuk molen itu tidak ubahnya seperti pentungan polisi saja. Dan kalau dia sampai makan, dia khawatir lambungnya yang mungil (?) harus meregang ekstra lebar hanya untuk menampung sebuah molen. Aku terkikik geli dibuatnya. Kupikir-pikir lagi, memang sih, ukuran molen ini agak di luar batas kemanusiaan (gak manusiawi gitu), soalnya, seperti kata Ucie, mungkin pembuat molen itu kurang toleran terhadap kapasitas perut manusia.
Namun mau bagaimana lagi, kata Erna, jualan tetap harus jalan terus. Jadilah, molen-molen itu selalu ada di meja ruang tamu kami, tergolek tak berdaya, menunggu jamahan tangan orang-orang yang kelaparan. Benar-benar molen jumbo biang kehebohan!
Tembusan (kayak surat fakultas aja) :
- Alin; Tanah 41; kawan gilaku dalam merancang ide-ide tulisan nan sinting n miring. Semoga kita bisa terus menemukan ide-ide segar dan gila untuk ditulis dan dikembangkan.
- Erna; Manajemen 41; kawanku si penjual pisang molen jumbo. Ganbatte jualannya ya!!
- Ucie; KPM 41; si cablak yang doyan makan (meskipun badannya kecil).
- Rubi; SEIP 41; meskipun gak sekontrakan, tapi sering main ke rumah. Komentar kamu mengenai pisang molen jumbo itu sangat mengena di hatiku, sampai-sampai tega bikin tulisan kayak gini.
- Kawan-kawan sekontrakanku yang lain : Arta, Vina, Ita, Endang, Nana, Dian; yang mengalami nasib sama denganku → menghadapi senampan molen jumbo di meja ruang tamu setiap kami duduk menonton TV.
Kunjungi blogku di lovelycomics.wordpress.com
Kasih komentar ya!!