Kayak judul film saja…

Aku iseng mengangkat tema ini, soalnya aku sering mengamati iklan di TV (kurang kerjaan ya, tetapi menarik lho :D ).

Seperti yang kita tahu, banyak iklan yang menggunakan perempuan sebagai ikonnya. Di antaranya iklan produk kosmetik, susu nutrisi, baik untuk ibu hamil atau diet, style, dsb. Aku khusus di sini menyorot iklan produk kosmetik, dalam hal ini, produk pemutih wajah.

Iklan pemutih wajah, seperti namanya, mengiklankan bahwa kulit putih itu bagus (yang terbagus malah, kesannya begitu… :( ). Semua wanita diharapkan (baca : diharuskan) untuk menjadi wanita berkulit putih. Ada iklan yang menyampaikan pesan itu secara implisit, ada juga yang eksplisit, seperti iklan salah satu produk krim pemutih wajah dari negeri Asia Timur sono (merk jangan disebut, cari saja iklan yang ada komentar orangnya, bahwa wanita yang sempurna adalah yang begini, begitu, dan terakhir berkulit putih… kayak itu suatu keharusan saja…).

Padahal menjadi berkulit putih bukanlah mutlak bagus lho. Lihat saja Michael Jackson! Dia sampai  mengubah kulit menjadi putih, tetapi wajahnya jadi amburadul :D Kulit putih rentan terhadap efek sinar matahari, dan karenanya rentan juga terhadap berbagai penyakit kulit (bukan panu lho ya, soalnya kalau yang itu malah gak akan keliatan kalau kamu putih… :D ), misalnya kanker kulit. Hiii, serem gak sih??

Orang kulit hitam mempergunakan kapasitas melaninnya secara maksimal. Begitulah yang sempat kubaca di sebuah artikel ilmiah (ntar diliat lagi bener atau tidaknya, lagi males nihh). Sedangkan orang berkulit putih tidak. Jadi sisa melanin yang tersimpan di bawah kulit tubuh itu, dorman dan bisa terbangkitkan sebagai kanker apabila terekspos sinar matahari. Pernah lihat kan, kulit orang bule yang bintik-bintiknya banyak banget? Itu pigmen melanin kulit yang tidak terpakai seluruhnya. Umumnya manusia sawo matang seperti kita tidak punya yang kayak gitu, soalnya pigmen kulit kita terpakai semua (tropis siih :D ).

Jadi, intinya, manusia berkulit warna, apalagi yang gelap macam kita dan orang Negro, lebih tahan terhadap kanker kulit dan berbagai macam penyakit pigmen kulit lainnya.

Sooo, girls, jangan terlalu termakan iklan pemutih wajah di TV! Hampir semua pemutih wajah yang mengklaim tidak menggunakan merkuri dan hydroquinon, menggunakan pewarna titanium dioksida sebagai dasar pemutih mereka. Meski bisa terbilang cukup aman dan lazim digunakan sebagai pemutih (apa pun, soalnya TiO2 ini merupakan zat pemutih umum di industri cat tembok, pewarna berbagai produk seperti sabun dan krim, dsj), tetap saja kita tidak tahu apa yang dirahasiakan oleh para produsen itu. Aku kok kurang percaya ya, kalau cuma bermodalkan titanium dioksida dan zat alami apa gitu, macam bengkoang, lycorice extract, dll bisa secara instan memutihkan wajah. Lagian pigmen kulit kan terbarukan setiap beberapa periode sekali, jadi kalau memang kulitnya sudah gelap, yaa gelap saja terus. Lebih cerah mungkin yaa, tapi tidak sampai putih kayak yang di iklan-iklan itu; yang itu sih, modelnya memang sudah putih and the mulus. :D

Sekian saja opiniku yang rada ngawur ini, tapi bener lho! Jadi untuk para gadis yang ingin cantik, hapus anggapan kalian bahwa cantik itu (harus selalu) putih. Memang putih itu bersih, tetapi bukan berarti gelap atau hitam itu kotor kan?? :) Banggalah pada apa pun warna kulitmu karena itu adalah sesuatu yang telah dianugerahkan Tuhan padamu, jagalah selalu, rawatlah selalu, tetapi jangan ngoyo-ngoyo amat ngerawatnya sampai mengorbankan segalanya, bahkan juga nantinya mengorbankan kulitmu sendiri. Aneka warna kulit adalah bukti kekuasaan Tuhan atas keberagaman kita sebagai umat manusia. Namanya juga Bhineka Tunggal Ika hehe.. :D

Kecantikan sejati tidak hanya bersumber dari jasmani saja, melainkan juga dari jiwa yang sehat dan pribadi yang beriman kepada-Nya. Aku hanya merevisi ungkapan lama “Kecantikan sejati berasal dari dalam” karena menurutku ungkapan itu kurang banyak, hehehe… Cantik itu relatif, jadi kecantikan jasmani juga tidak berarti tubuh harus perfek mulus abis macam supermodel. Iya kan??

Salam, Dea.

Hai!

Sebenarnya nggak ada yang istimewa dari syuting itu sih, cuma biasa, adikku lebay pas ngomong, “Mbak, ada orang lagi syuting lho dekat kantor pos!” :D

Kalau dibilangin gitu juga, orang kan jadi penasaran. Ya sudahlah, aku juga sekalian mau beli terigu di warung dekat situ, sekalian saja mau lihat syutingnya. Kata ibuku, malah ada Gary Iskak segala, lagi nyetop tukang burger keliling dan makan burger sambil nunggu gilirannya take shoot. :D :D

Jadinya, aku dan Satrio naik motor ke warung itu, sekalian mau lihat syutingnya. Pas mau lewat dekat situ, eeh, ternyata lagi take, jadi nggak boleh lewat di jalan itu. Yaa, padahal kan aku mau lihat syutingnya! Aku akhirnya cuman nanya lagi syuting apaan sih. Katanya bukan syuting sinetron, melainkan syuting iklan Toyota. Ooohhh!! Kukira sinetron. Capek deh!

Pulangnya, Satrio mengusulkan untuk lewat jalan itu lagi. Aku dasarnya sudah males, jadi aku bilang saja untuk lewat jalan lain daripada lewat situ lagi, ketauan banget pengen nampangnya hehe :D

Akhirnya kami hanya bisa melihat syuting itu dari jarak jauh deh… :)

Salam, Dea.

Minimart Bersaing??

Juli 18, 2008

Eh, aku kepikiran nih!

Setiap kali ada toko serba ada waralaba semacam Alfamart atau Indomart, apabila salah satu sudah berdiri di satu lokasi, pasti yang satunya lagi ngikut berdiri di lokasi yang tidak jauh dari saingannya. Kira-kira kenapa ya??

Toko-toko serba ada semacam Alfamart atau Indomart merupakan salah satu bentuk usaha yang disebut waralaba atau franchise, kalo istilah sononya. Franchise berasal dari bahasa Prancis, yang artinya kejujuran atau kebebasan, intinya merupakan hak-hak untuk menjual suatu produk atau jasa maupun layanan. Sedangkan menurut pemerintah Indonesia, franchise atau waralaba merupakan perikatan dimana salah satu pihak diberikan hak untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak kekayaan intelektual (HAKI) atau pertemuan dari ciri khas usaha yang dimiliki oleh pihak lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan oleh pihak lain tersebut dalam rangka penyediaan dan atau penggunaan barang atau jasa tersebut (http://id.wikipedia.org/wiki/Waralaba/).

Intinya, dalam franchising, kau membeli lisensi atau izin untuk menggunakan dan atau menjual produk atau jasa dari suatau paten tertentu. Sudah banyak contoh franchise di Indonesia, beberapa di antaranya adalah McDonalds, KFC, CFC, dll.

Naaah, salah satu jenis dari waralaba ini adalah berupa toko serba ada mini semacam Alfamart dan Indomart. Seperti yang telah kusebutkan di atas, mereka bersaing ketat dalam memperebutkan pelanggan yang umumnya ibu-ibu rumah tangga, yang malas berbelanja jauh-jauh ke supermarket, tapi pengen belanja di toko sekaliber supermarket itu yang dekat dengan rumah mereka dan tidak banyak makan waktu serta ongkos (aku juga senang kok main ke mini market macam itu, sambil kadang-kadang iseng membandingkan harga…). :D

Antara dua mini market yang kusebut barusan, sebenarnya tidak ada perbedaan signifikan antara tampilan keduanya. Keduanya sama-sama memiliki ukuran toko yang kurang lebih sama luasnya, sama-sama berpenerangan lebih (alias terang banget, laksana pasar malam di tengah malam yang gelap —maksud???) :) , barang-barang yang dijual di dalamnya juga gak beda-beda jauh, paling berkisar antara barang-barang kebutuhan rumah tangga. Harga juga tidak terlalu beda jauh, hanya di salah satu mini mart memang harganya lebih mahal.

Yang bikin aku geli adalah semangat dan daya juang mereka untuk bersaing satu sama lain. Apabila yang satu membuka lokasi baru di satu tempat, maka dapat dipastikan yang satu lagi akan segera mengikuti dengan membuka cabang di lokasi dekatnya. Benar-benar deh! :D

Tren terbaru sekarang ini dikembangkan oleh Alfamart yaitu dengan membuka cabang toko yang buka 24 jam penuh. Indomart belum menyaingi, tetapi siapa tahu, lihat saja nanti. Dengan bukanya toko selama 24 jam, dan harga yang tidak terlalu meningkat seperti halnya K-Circle Mart yang memang sejak awal berupa toko 24 jam dengan harga selangit, Alfamart mendapat tempat tersendiri di hati beberapa pelanggannya yang gemar ngelayap malam-malam sambil belanja, salah satunya aku hehehe… :D

Yah, persaingan sih sah-sah saja ya, selama tidak melanggar batas dan privasi lawannya. Aku cuma sekedar geli dan kadang bertanya-tanya mengapa mereka seperti saling berkejaran dan menemani di mana pun mereka berlokasi. Bagai kucing dan ikannya, eh bukan, kucing dan kutunya, hahahahaha…. XD

Salam, Dea.

N.B. Pertama kali aku lihat ada Alfamart 24 jam adalah di daerah dekat kampusku di IPB Dramaga. Benar-benar suatu anugrah bagi mahasiswa tukang ngenet dan ngelayap malam-malam kayak aku! :P