Rokok??? Uggghhh…
Agustus 11, 2008
Tiap kali naik bis kayak Pusaka atau Perdana Jaya, pasti deh, gangguan utama adalah dari orang yang merokok, entah itu di sebelahku, di depanku, di belakangku, di mana-mana…
Memang sih, katanya hak untuk merokok itu sudah disamakan dengan hak untuk hidup, masuk dalam kelompok hak azasi manusia (tau siapa yang nyimpulin begitu??), tetapi kan jangan sampai dong, hak itu juga melanggar hak azasi orang lain!
Bukan hak azasi lagi namanya jika sudah melanggar hak orang lain. Lagian sejak kapan sih, merokok masuk HAM??! Setauku, HAM hanya terdiri atas hak hidup, hak beragama, hak berpendapat, hak merdeka, dan aku tak tahu lagi semua HAM yang dibuat-buat selain yang barusan, biasanya sih yang jago buat HAM kayak gitu sih Amerika… Jagonya HAM gitu loh!
Mau negur, kadang suka nggak enak hati. Nggak ditegur kok ngelunjak, ngepul-ngepulin asap rokoknya persis di muka orang (soalnya aku pernah kena yang kayak gitu!). Padahal aku sudah berakting rada lebay dengan batuk-batuk pake suara cukup keras lho! Nggak tahu dianya yang lemot atau pura-pura nggak tahu, tetep saja… rokok jalan terus…
Untuk orang yang merokok, tolong ya, pertama merokok itu merugikan orang banyak dan diri sendiri. Bosan kali ya, kalau diomongin kayak gini, soalnya sudah keseringan, jadinya kuping sudah bertebal ria mendengarnya… Kalau gitu, coba diingat lagi dari sisi kriminalitas : bisa lho, kalian para perokok jadi tersangka pembunuhan tak terencana, meski tidak dituntut dan sang korban tidak tahu jika dia mati karena terlalu banyak menghisap asap rokok, dan salah satu penyumbang asap-asap itu adalah Anda!! Jika dipikirkan dari segi itu, seharusnya sudah cukup membuat orang berhenti merokok. Tetapi mengingat kebanyakan orang Indonesia itu ngeyelan dan ngototan, yaaah kayaknya kok kurang ampuh… Lha wong membunuh orang secara langsung saja sudah dianggap biasa, apalagi membunuh orang secara tidak langsung melalui asap rokok??! Lebih biasa lagi, sori menyori nih…
Kalau begitu bisa dicoba dari sisi kesehatan dan higiene : rokok itu mengandung banyak zat yang beracun tinggi, beberapa di antaranya zat racun dalam lem merk Aica Aibon, tar aspal, nikotin yang setara morfin kelas kakap, dll. Kalau dipikir, menghisap rokok sama dengan makan semua lem, aspal, dan racun-racun itu. Yaaa, tetapi lagi-lagi mengingat orang Indonesia itu sakti mandraguna, zat warna baju aja ditelan sebagai pewarna makanan, kue basi pun jadi diolah lagi, formalin main pakai saja, jadi yaaa kayaknya nggak mempan juga tuh, peringatan macam kayak gini. Terus mempannya yang kayak apa ya??
Mungkin yang paling mempan kalau aturan hukuman keras diperlakukan, meniru Singapura, yang meludah sembarangan saja didenda $ 500 Singapura, atau setara Rp 200000,- saat itu. Bayangkan, daripada Rp 200000,- melayang, mendingan nggak merokok deh!
Sayangnya, untuk urusan hukum menghukum, aparat kepolisian kita sama sekali tidak bisa diandalkan. Lha wong konsumen utama rokok selain para supir, kenek, dan sebagian besar bapak-bapak ‘nganggur’ di Indonesia ini, yaa para polisi juga!
Terus bagaimana??? Tanya kenapa pada… entah… rumput yang bergoyang, kalau menyitir syair lagu Bang Ebiet G. Ade
Salam, Dea.
Kucingku yang Kekanak-kanakan
Agustus 6, 2008
Aku suka kucing. Sudah jelas kan, dari beberapa tulisanku yang lalu?
Nah, di rumah aku punya seekor kucing jantan. Warnanya abu-abu garis-garis, ada pola hitamnya juga di punggung. Kuberi dia nama Pepenk, singkatan dari pemuda pengkor. Pengkor artinya pincang, soalnya dulu pas dia masih kecil, kakinya pernah terlindas mobil ibuku sampai patah dan jalannya pincang. Seiring dengan waktu, ia sembuh, tetapi bentuk kakinya tetap saja kurang pas dan cara jalannya cacat.
Sebenarnya ia punya saudari dua ekor, yang seekor lagi mati pas insiden pelindasan itu. Yang seekor lagi masih hidup sampai sekarang, tetapi sudah tidak pernah mampir lagi ke rumah, kuberi dia nama Once, singkatan dari oon nih cewe
Berhubung diurus sejak masih kecil, Pepenk manja pada kami. Kerjaannya melendot di kaki orang, apalagi kalau kami duduk, dia langsung saja meloncat dan bercokol di pangkuan kami. Karena ibuku dan aku sering mengusir dia kalau dia sudah bergelung di pangkuan, dia paling suka bergelung di pangkuan adikku, yang suka balas memeluknya. Hangat, katanya, padahal Pepenk kan sering menyambangi tong sampah, hii jorok nggak sih?! Namanya juga kucing kampung. Tapi tetep saja adikku suka mengeloni Pepenk
Pepenk yang manja, tingkahnya juga kekanak-kanakan. Dia senang bermain layaknya anak kecil saja, padahal sekarang dia sudah jadi kucing dewasa lho. Kalau jalan, ekornya menjulang, terangkat ke atas seperti anak kucing. Padahal, selama aku memperhatikan kucing, ketika mereka dewasa, ekor mereka dengan sendirinya akan merendah, dan bukannya berdiri ketika mereka berjalan. Posisi ekor seperti itu menunjukkan bahwa kucing itu masih merasa seperti anak kucing saja. Mungkin karena terbiasa diurus manusia sejak bayi, dan bukannya hidup liar seperti kucing jalanan.
Dulu aku pernah memelihara kucing yang mirip Pepenk, sama-sama jantan dan motif bulunya mirip. Dia juga menunjukkan ciri-ciri yang sama seperti Pepenk sekarang : ekor berdiri ketika berjalan, suka melendot di kaki dan bergelung di pangkuan orang, manja, cerewet, dll. Ternyata hanya kucing jantan saja yang seperti itu. Beberapa kucing betina yang pernah kupelihara tidak seperti itu tuh! Mereka justru lebih tenang dan mandiri dibandingkan kucing jantan yang rumahan. Mungkin karena mereka harus melahirkan anak ya, jadi mau tidak mau, mereka harus bersikap dewasa, tau deh..
Intinya, aku sayang kucingku itu, tetapi kalau dia sudah mulai ribut dan mengacau tidak jelas, aku tidak segan untuk memarahi dan menendangnya keluar rumah. Hehehe, sayang kucing juga pilih-pilih dong!
Salam, Dea.
N.B. Kalau kucingnya kayak Zels, aku bakal sayang-sayang terus deh!
Gara-gara Plang, Aku Menangis…
Agustus 1, 2008
Percaya nggak??
Kalau sudah jaga rumah berdua dengan adikku, kami menjadi anak-anak paling bengal sedunia
Ceritanya, ibuku pergi ke Solo selama 4 hari untuk menghadiri pernikahan sepupuku. Kami diharuskan menjaga rumah selama beliau tidak ada. Jadilah kami merasa bebas absolut (maksud??).
Kami punya hobi naik motor malam-malam. Biasanya sih jarang keluar dari komplek rumah kami, atau paling banter cuman sampai Muncul saja. Naah, mumpung ada kesempatan, kami mencoba naik motor sampai Karawaci. Kan jauh banget tuhh??! Kami berniat mencoba jalan tikus yang pernah kami lewati dulu pas Bapak masih ada.
Yang nyetir Satrio, aku cuman mbonceng saja. Soalnya kelihaian adikku dalam menyetir motor sudah setara tukang ojek kelas kakap siih, hehe
Mula-mula kami berkendara sesuai rencana, melintasi wilayah BSD, sampai Ash-Shobirin, terus menyusup lewat jalan tikus, nyambungnya ke Summarecon Gading Serpong. Dari situ, kami mencari jalan tikus ke arah Lippo Karawaci.
Hampir nggak ketemu tuh! Soalnya kami bingung mencari sutet listrik yang biasanya menjadi pedoman kami, kok nggak ketemu-ketemu ya?? Pas sudah ngerasa nemu, ternyata kami nemu jalan lain, yang meski lebih jauh, tetapi masih nyambung juga ke Lippo Karawaci.
Kami cuma muter aja di sekeliling mal Lippo Karawaci. Nggak punya duit sepeser pun, jadi nggak bisa mampir dan jalan-jalan di dalamnya. Malangnya kami jadi kere gini…
Pas pulangnya, aku iseng ngomong, “Dik, mampir liat Alam Sutera yuk! Pengen tau dalamnya kayak apa.” Dan adikku pun menuruti saranku. Kami belok ke Alam Sutra dan jalan-jalan di situ. Sampai ujung, kami heran, lho kok mana perumahannya. Ternyata perumahannya ada di sisi lain jalan utama, hampir tidak terlihat dari jalan besar. Kami yang tidak tahu hal itu, terus saja mblusuk (masuk, Jawa) ke pelosok kampung di belakang Alam Sutra.
Kami berkeliling sambil mencari jalan tembus ke arah jalan besar. Kok nggak nemu-nemu ya?? Kami sudah cemas setengah mati, mana jamnya sudah menunjukkan jam setengah sebelas malam, bensin tinggal dua batang di penunjuk bensin motor, suasananya gelap banget (maklum, kampung mblusuk!), pake ada warung remang-remang yang ada premannya lagi, hiiih… Jujur saja, aku nggak takut hantu, tapi lebih takut orang hidup yang berniat jahat. Hasil akhirnya lebih nyata…
Selama setengah jam kami ketar-ketir, mencari plang penunjuk jalan yang menunjukkan arah ke lokasi yang kami tahu, BSD kek. Sungguh mati, kami sama sekali buta mengenai Pondok Jagung!! Aku dan Satrio sudah hampir nangis membayangkan bagaimana jika seumpama kami mogok di jalan, di tempat antah berantah yang kami tidak tahu juntrungannya (padahal cuma daerah situ yaa…
), terus Ibu alih-alih marah, panik mencari kami yang menghilang.. Oooh!! Nggak bisa membayangkannya!
Kemudian setelah masuk ke sebuah komplek perumahan antah berantah (soalnya kami tidak tahu kalau ada komplek yang namanya Villa Mutiara seumur-umur…), kami melihat sebuah plang penunjuk jalan. Wuah, aku langsung meneteskan air mata lega! (Agak lebay nihh…) Sementara Satrio sudah berteriak-teriak girang dari balik helmnya. Kami mengikuti arah yang terpampang di plang, dan kembali ke jalan besar, akhirnya, setelah sebelumnya baru menyadari bahwa kami hanya berjalan memutar melewati jalan yang sama lagi (Lho????). Apes banget dehh…
Yah, akhirnya kami pulang kembali ke rumah dengan selamat, tanpa kurang suatu apa pun. Heeh, pengalaman menarik tuh…
Pelajaran yang bisa diambil : Jangan kelayapan malam naik motor tanpa mengenal medan, terlebih tanpa membawa tanda pengenal yang pantas, berupa KTP, SIM, dll, soalnya jujur saja kami, selain tidak membawa uang sepeser pun, juga tidak membawa KTP dan SIM. Hahaha!!
:rofl:
Salam, Dea.