Maraknya SMS Premium Call

November 21, 2008

“Piye kabare?”
“Tetep koyo ngene wae, Mbah…”
“Kowe iki lahire pas Selasa Kliwon, ora cocok nyambut gawe ning mbanyu. Kowe cocoke nyambut gawe dadi pedagang.”
“O iyo, Mbah.”

Siapa yang nggak tahu iklan itu? Iklan mengenai ramalan berdasarkan weton atau primbon Jawa yang populer di TV akhir-akhir ini merupakan satu dari sekian banyak iklan SMS Premium Call yang menjamur di masyarakat. Selain yang satu itu, kita juga mengenal SMS premium mengenai chatting, kontak jodoh, konten hape, dsb. Begitu maraknya SMS tipe seperti ini merupakan suatu pertanda bahwa usaha semacam ini ternyata laku keras di negeri kita.

Aku mengkhususkan diri mengomentari hanya pada jenis SMS ramalan saja ya. Selain yang satu di atas, banyak juga SMS ramalan berdasarkan horoskop zodiak, ramal tanggal lahir, bahkan sampai ramalan berdasarkan nomor hape yang digunakan. Terlepas dari percaya atau tidak percaya, semua SMS itu menurutku hanya sebuah pemborosan belaka. Kayaknya cuman orang yang kebanyakan pulsa saja deh yang ikutan SMS kayak gituan :D

Pertama yang perlu diketahui, isi SMS yang dijanjikan bakal berbeda antara satu orang dengan yang lain itu ternyata bohong. Beneran loh! Salah satu kawanku pernah mencobanya menggunakan nomor perdana yang diregister pake biodata fiksi, ia mendaftar masuk ke premium SMS macam gitu. Ternyata isi SMSnya sama saja dari hari ke hari. Yang beda cuma pilihan kata-katanya saja.

Kedua, SMS macam ini biasanya memberi syarat agar kita mendaftar masuk terlebih dahulu dengan mengetik REG blablabla. Naah, satu hal yang tidak diberitahukan dan tidak diduga bagi kita yang berniat berlangganan adalah bahwa SMS itu akan datang tanpa kenal waktu, terkadang isinya sama saja, hanya diulang-ulang, dan yang jelas tiap kali masuk ke inbox kita, pulsa kita kemakan juga hahaha :D Mending kalo cuman sekali, ini berkali-kali, jadinya boros, pulsa 100 ribu bisa habis dalam 3 hari cuma karena SMS spam macam begitu.

Ketiga, untuk tidak berlangganan lagi biasanya dipersulit. Mereka memang mengatakan bahwa untuk tidak berlangganan lagi ketik saja SMS berisi UNREG blablabla, lalu kirim saja dan langsung tidak berlangganan lagi. Ternyata tidak semudah itu. Meski telah unreg, tetap saja konten SMS itu datang dan datang terus, menguras pulsa kita. Jadinya sama saja dong! Mending nggak usah langganan sekalian.

Keempat, meski usaha semacam ini legal, tetapi sesungguhnya secara moral, hal ini merupakan salah satu bentuk penipuan terselubung. Salah satu ciri usaha yang benar adalah jelas dan nyata bagi pelanggannya, dalam arti usaha itu benar-benar jujur dan jelas apa tujuan, isi, dan maksudnya. Naah sejak awal SMS macam ini kan hanya mengatakan “ikutan ayo ikutan asyik lho!” tanpa mengatakan syarat dan prasyarat dengan jelas dan gamblang pada pelanggannya. Ketentuan mengenai banyaknya SMS yang diterima dalam sehari saja misalnya, juga tidak dijelaskan. Pokoknya pelanggan tau ikut saja lah! Tau-tau pulsa habis !

Jadi bagi siapa pun yang tertarik atau iseng mau ikutan SMS kayak ginian, mending gak usah deh! Bikin stress n kantong habis-habisan buat beli pulsa hahaha… Mending SMSan ama temen kita atau pacar bagi yang punya (asal jangan SMS yang aneh-aneh :D ).

So, what’s your comment?

Salam, Dea.

Hai!

Menambahi daftar ‘hujatan’ soal sinetron kita yang sudah teramat panjang, aku mau mengomentari soal sinetron Suami-suami Takut Istri (SSTI) yang sudah cukup lama diputar di TransTV tiap petang.

SSTI merupakan sebuah judul komedi situasi yang sudah dikenal oleh masyarakat. Di situ banyak ditampilkan mengenai kekonyolan-kekonyolan para tokohnya yang sebagian besar terdiri atas para suami yang goblok dan genit, bersama istri-istri mereka yang streng abis :D

Terlepas dari kekonyolan yang ditampilkan, banyak hal yang menjadi contoh buruk dari sinetron ini. Yang pertama adalah moral para suami tersebut. Mereka digambarkan sangat tergila-gila pada seorang tetangga mereka yang masih lajang bernama Preti. Sampai-sampai mereka rela melakukan segala cara untuk bisa bersama-sama dengannya. Tentunya dengan berbohong untuk menghindari amarah para istri mereka.

Yang kedua adalah sikap para istri tersebut. Terlepas dari kekonyolan tingkah laku suami-suami mereka, tidak sepatutnya mereka memarahi dan melawan suami mereka seperti itu. Apalagi terkadang mereka melakukannya juga di depan anak-anak mereka, yang menjadikan mereka berani melawan juga terhadap ayah mereka. Seolah-olah merekalah raja di dalam rumah tangga mereka. Biar bagaimanapun juga, suami adalah pemimpin rumah tangga yang sepatutnya dihormati dan dipatuhi. Tetapi sinetron ini sama sekali tidak menggambarkan keadaan itu.

Ada kalimat bijaksana mengatakan bahwa “kekuatan suatu bangsa berasal dari unit terkecil yaitu keluarga”. Untuk itu, seharusnya televisi kita menayangkan tayangan yang bersifat mendidik dan membangun. Dibandingkan cerita nggak jelas dan mengajarkan moral jelek semacam SSTI, mengapa tidak membuat sinetron seperti contohnya Keluarga Cemara seperti yang dulu sudah pernah ditayangkan RCTI? Sinetron tersebut sarat dengan muatan kekeluargaan dan kasih sayang. Suatu modal bagus untuk pendidikan bangsa.

Aku males komentar panjang lebar. Sama kayak Alin di tulisannya mengenai pemboikotan sinetron Taaruf di TPI, nyatanya sinetron itu masih tetap tayang saja di TV. Masalahnya masih ada yang nonton sih… :(

Oh iya ternyata ada lho instansi yang menangani pengaduan masyarakat soal acara TV yang kurang bagus. Namanya KPI, kalo gak salah, lupa singkatannya apa, tapi aku sempat mencatat no HP untuk smsnya kemarin, …kalo gak salah 0812 130 70000. Kalo ternyata salah, sori banget ya! Ntar kucari lagi.

Salam, Dea.

Bagi siapa pun yang menggemari Barack Obama dan mengharapkan ‘keajaiban’ terjadi pada masa pemerintahannya sebagai presiden baru AS, tentunya merasa kecewa. Karena ternyata sang Pangeran Harapan sama saja seperti para pendahulunya.

Pidato Obama yang cukup mengagetkan dan menyurutkan harapan akan perdamaian dunia yaitu pidatonya mengenai kemungkinan Iran menyimpan senjata nuklir berbahaya. Hal ini senada dengan pernyataan G.W. Bush sebelum pada akhirnya ia menggempur Irak. Akankah Obama menggempur Iran?? Siapa tahu.

Yang membuat saya geli adalah euforia yang dialami masyarakat Indonesia berkenaan dengan pemilu di AS belum lama ini. Begitu banyak penggemar Obama bermunculan. Hanya karena faktor ia keturunan kulit hitam dan pernah tinggal di Indonesia selama beberapa tahun. Jujur saja, saya akui, faktor terakhirlah yang paling banyak menimbulkan euforia rakyat Indonesia. :D

HANYA KARENA ia pernah tinggal di Indonesia selama beberapa tahun saja, penduduk negeri ini memujanya bagaikan dewa. Semua orang sibuk berspekulasi dan menyuarakan harapannya mengenai Obama. Ya ampun, urus dulu kek negeri sendiri! Negeri orang lain diurusi sampai segitunya, dipuja-puja sampai menyembah-nyembah hanya karena ia ‘pernah tinggal dan bersekolah di sini’. Padahal memikirkan negeri kita juga nggak. Mereka punya kepentingan sendiri yang jelas-jelas tidak ada sangkut pautnya dengan kita, dan kalaupun ada, pastilah tidak menguntungkan bagi kita, menguntungkan hanya bagi mereka sendiri saja.

Tabiat AS bisa ditebak dengan mudah. Arogansi dan kepentingan pribadi lebih penting bagi mereka dibandingkan nyawa manusia yang bukan warga negara mereka. Rasialisme berakar kuat dalam setiap tindakan mereka. Naiknya Obama sebagai presiden hanya suatu perubahan kecil yang tidak seberapa. Apa artinya kekuatan satu orang dibandingkan bayang-bayang kekuatan mereka yang sesungguhnya mengatur pemerintahan negara adidaya itu?

Siapa mereka?? Tebak saja sendiri.

So, what’s your comment?

Salam, Dea.