KOMEDI PMI

Juni 2, 2008

Hari Jumat tanggal 30 Mei 2008, Endang dan Erna menjenguk Arta yang dirawat di rumah sakit PMI karena menderita demam berdarah. Sejak beberapa minggu yang lalu, sepertinya wabah DB dan tifus sedang menyebar di kalangan penghuni Cendana. Korban pertama adalah Alin, yang tumbang karena DB dan harus dirawat di PMI selama kurang lebih 4 hari sekitar pertengahan Mei yang lalu. Dan sekarang malah 2 orang sekaligus, yaitu Arta dan Uci. Yang unik, mereka sama-sama dirawat di paviliun Mawar dan kamar mereka berurutan, yaitu Uci di kamar 303, Alin (dulunya) di kamar 304, dan Arta di kamar 305. Unik banget gak sih???

Malam itu, Endang dan Erna sedang iseng, sambil menunggu Arta, mereka saling bercerita mengenai hantu di rumah sakit. Padahal keduanya penakut ya, aku pikir, tapi masih saja sempat-sempatnya bercerita kayak gitu. Kemudian ibu Arta meminta mereka membelikan sedotan 1 pak penuh untuk keperluan Arta minum. Mereka menyanggupi, tetapi menolak ketika diberi uang. Pakai uang sandiri saja, toh sedotan juga murah, katanya. Tetapi ibu Arta bersikeras, dan akhirnya mereka menerima juga Rp 1000,- yang disodorkan pada mereka.

Terpengaruh oleh cerita hantu mengenai suster ngesot yang suka ngesot di dalam lift rumah sakit (atau menghadang di depan pintu, kalo kata Endang ^^), mereka memutuskan untuk tidak menggunakan lift selama naik-turun lantai 3-lantai dasar. Jadinya mereka turun pake tangga rumah sakit ke lantai dasar.

Sesampainya di warung, mereka segera menanyakan harga sedotan 1 pak pada bapak penjual. Katanya, harga 1 pak sedotan Rp 1500,-. Lama Erna menimang sedotan itu, sampai-sampai Endang heran dibuatnya. “Na, ayo cepetan belinya,” desak Endang gak sabaran. Tapi Erna masih diam sambil menimang-nimang sedotan itu.

Akhirnya Erna buka mulut dan bertanya pada penjualnya, “Pak, sedotan ini bisa belinya cuma Rp 1000,- nggak? Saya gak bawa uang lebih,” katanya sambil mengacungkan uang Rp 1000,-.

“Wah, ini sih gak diecer, Neng. Kalo mau, saya kasih sebiji nih,” si bapak balas menyodori sebatang sedotan ke Erna. Alamak gubrak! Pikir Endang. Ternyata Erna nggak bawa dompet toh! Endang juga nggak bawa dompet karena merasa Erna sudah bawa dompet pas mau turun tadi.

Akhirnya mereka balik lagi dengan tangan kosong untuk mengambil kekurangan uang mereka. Lagi-lagi karena takut akan suster ngesot, mereka naik melalui tangga dan bukannya lift. Ketika sampai di depan pintu kamar Arta, Erna langsung saja menyuruh Endang masuk. “Malu aku sama ibunya Arta, soalnya uangnya ternyata kurang,” katanya.

Akhirnya Endang masuk ke kamar dan mengatakan pada ibu Arta bahwa uang mereka untuk membeli sedotan kurang. Ibu Arta bilang, sekalian saja beli air botolan yang banyak dan memberi mereka uang lebih. Jadinya mereka kembali lagi ke bawah untuk belanja sedotan dan air.

Setelah membeli pesanan ibu Arta, mereka hendak kembali ke kamar Arta. Sesampainya di depan lift, Erna bilang ke Endang, “Ndang, kita naik lift saja ya.”

Endang juga mau naik lift, soalnya belanjaan mereka berat juga untuk ditenteng sepanjang naik tangga menuju kamar Arta. Tetapi melihat wajah Erna yang agak-agak gimana gitu (sepertinya masih terpengaruh cerita hantu tadi ^^), niat jahil Endang pun timbul. Katanya, “Nggak ah, Mbak Ern. Aku tak lewat tangga saja.” Dan dia pun mulai menaiki tangga.

Erna masih terpekur di depan lift. Sementara itu, Endang sudah mencapai kepala tangga menuju lantai 2.

Akhirnya Erna berteriak, “ Nduuuung!! Tungguin akuuuu!!!” sambil menghambur ke tangga dan cepat-cepat menyusul Endang. Tak perlu diragukan lagi, volume suara Erna cukup maksimal untuk ukuran rumah sakit ^^.

Sesampainya di lantai 3 pavilun Mawar, mereka dikejutkan oleh banyaknya suster yang berlarian ke arah mereka. Keheranan, Endang bertanya pada salah satu suster, “Sus, ada apaan ya?”

“Itu tadi, ada suara cewek minta tolong dari arah lift bawah! Takutnya ada apa-apa!”

Pas Erna memekik karena mendengar keterangan itu (takut karena berpikir yang nggak-nggak ^^), suster itu langsung menyeletuk, “Nah! Suara minta tolongnya mirip suara Mbak itu!” sambil menunjuk Erna.

Alamak gubrak! Pikir Endang. Pasti itu maksudnya suara Erna pas mau naik tangga tadi. Malunya aku!

“Oh, nggak kok, Sus. Soalnya dia baru teriak pas barusan saja. Tadi-tadi dia nggak teriak-teriak.” Akhirnya untuk menahan rasa malu berlebihan, Endang beralasan semacam itu.

Gara-gara itu, mereka dimarahi suster, supaya jangan teriak-teriak di rumah sakit lagi.

Aku baru saja bangun pagi ketika Endang bercerita hal ini. Langsung melek deh mataku! Dan yang jelas ketawa habis-habisan. Ampuuun, kapan sih duo E ini tidak melakukan kekonyolan??

 

Salam, Dea.

 

P.S. Untuk yang sedang penelitian, harap hati-hati dengan berjangkitnya wabah demam berdarah ini. Bisa-bisa wisuda molor deh!

3 Responses to “KOMEDI PMI”

  1. alin Says:

    :D kayaknya suster dan mantri di PMI udah pada hapal sama kita keluarga cendana.

    Emang tuh kalo ada kejadian aneh2 pasti melibatx erna dan endang, mereka nganter dian ke tegal ya? :mrgreen: pasti ada yang aneh lagi. Padahal di kostan kita yang udah seminar hasil baru mereka berdua tapi dalam dunia nyata kelakuan mereka agak2 condong kemana gitu… mungkin jembatan varolnya kena banjir :D

  2. alin Says:

    tenang bud, walopun sakit saat penelitian, wisuda tetap tahun ini ;-) amin… amin….

  3. dian Says:

    bener alin, bud. penghuni PMI udah apal sama cendana haha.
    iyah erna n endang nganter aku ke tegal.. setahuku mereka gak aneh2 ko…
    cuma dapet kenalan cowo di kreta hehe.. tanya deh ceritanya…
    mosok mereka sok2an jalan2 n naik speda di daerahku… nggaya bgt kan?? padahal gak tau jalan.. sebenernya sih kasian, harusnya dian nganter mereka jalan2… tapi berhubung lagi sakit jadi mereka jalan2 sendiri… nah pasti ada tuh kejadian yg aneh2 lagi…dian gak tau sih…

    ayo semangat wisuda tahun ini… barengan yah… amin…


Leave a Reply