Petang, Jumat (22/2); aku baru saja pulang dari Baranang Siang melakukan praktikum penelitian. Masih dalam kondisi lelah dan basah karena kehujanan, aku menemui rumah dalam kondisi siaga 1. Yaa, nggak sampai segitunya banget sih, tapi yang jelas teman 1 kostku, Ar (nama sengaja kusingkat), langsung menodongku dengan pernyataan maaf, yang langsung membuatku bingung dan bertanya-tanya, ‘Sebenarnya apa yang terjadi?’

Akhirnya aku memutuskan untuk mandi dan shalat maghrib lebih dahulu. Setelah semua ritual pembersihan diri usai, aku pun duduk di ruang tengah dan mendengarkan cerita Ar, Uc, dan Er.

Ternyata asal muasalnya begini : salah satu teman kami yang bernama Vn, telah melaksanakan wisuda pada hari Rabu kemarin. Oleh sebab itu, keluarganya berdatangan dari Medan untuk ikut merayakan kelulusannya tersebut. Keluarganya itu antara lain ayah dan ibunya.

Pangkal kejadiannya bermula dari keengganan Vn dan orang tuanya untuk merepotkan kami, khususnya Ar sebagai teman sekamar Vn, dengan tinggal di dalam kamar selama mereka menginap. Akhirnya diputuskan bahwa Vn dan orang tuanya akan menginap di kost Tio, pacar Vn.

Pertama aku mendengar bahwa Vn dan keluarganya menginap di kost Tio, dan bukan di kost kami, aku merasa aneh. Menurutku pribadi, agak kurang etis bagi mereka untuk menginap di kost-kostan laki-laki (awalnya aku mengira begitu, tapi ternyata kost Tio campuran); tetap saja, secara etika dan moral agak kurang senonoh. Yaah, Vn dan Tio ‘kan masih berstatus pacaran (sebenarnya apa sih pacaran itu?), kayaknya nggak enak aja gitu. Jadinya, ketika aku mendengar hal itu, terlontarlah komentar dariku, “Kenapa harus nginap di sana semua? Kan Vn ma ibunya bisa menginap di sini, sedangkan bapaknya bisa menginap di sana (etisnya sesama cowok ‘kan, untuk kepantasan), gak harus semuanya diboyong ke sana semua kan?”

Nah, ucapanku dan komentar teman-teman yang lain itu sempat dikutip Ar ketika ia mengirim sms ke Vn, menanyakan apakah dia dan ibunya akan menginap di kost atau nggak. Sebenarnya isi sms itu wajar saja, tapi tanggapan Vn ternyata beda. Akhirnya dia menelepon Ar menanyakan perihal sms itu. Ar menyatakan bahwa Vn dan ibunya seharusnya (ada kesalahan pengucapan yang menyebabkan kesalahan persepsi nih..) menginap di kost kami. Vn menangkap maksud kata-kata Ar lain. Jadinya Vn dan ibunya salah mengira bahwa kami bergosip macam-macam mengenai dia dan Tio, dan tidak suka mereka menginap di kost Tio. Salah paham deh!

Parahnya lagi, pas siang harinya, Vn dan ibunya pulang ke kost. Ibunya uring-uringan bahwa beliau tidak suka kost kami dsb, DAN kebetulan saja (benar-benar kebetulan!) Er yang kena omelan itu. Kasihan banget gak sih?? Er yang gak tahu apa-apa kan jadi ketakutan mendengar semua omongan nyerocos dari ibu Vn, dan nyangkut-nyangkut juga prasangka kami yang berlebihan  mengenai hubungan Vn dan Tio di dalam omongan itu. Kesannya, ibu Vn menganggap kami biang gosip, senang membicarakan anaknya di belakangnya, dll. Intinya beliau menganggap kami JELEK.

Malam harinya, kami berusaha meluruskan masalah yang ada. Vn datang untuk mengambil barang-barang (yang kesannya sangat terburu-buru, seakan-akan dia sudah benar-benar tidak betah dan  ingin segera keluar secepatnya dari rumah ini!), kemudian dia duduk di ruang tengah dimana kami semua, kecuali End dan Dn, berkumpul. Sebelumnya dia membalas sms dari Er, yang dikirimnya melalui hpku, salah satu isinya berujar, “Vn dan ibu kecewa pada sikap kalian semua.” Ada juga sms lain dari Vn yang isinya, “Vn capek di rumah (baca : kost).”

Aku heran banget! Maksudnya apa sih?? Dia gak nganggep kita lagi gitu, kawan satu kontrakan yang sudah bersama-sama dengannya sejak 3,5 tahun yang lalu?? Begitu mudahnya dia terjatuh dalam praduga bahwa kami telah menggosipkan dia yang nggak-nggak ama Tio. Betapa rapuhnya kepercayaan Vn terhadap kami. Sungguh mati, tentu saja kami tidak bergosip apa pun! Masya Allah!

Vn menjelaskan dalam forum singkat malam itu, bahwa antara dia dan Tio tidak ada apa-apa, dan bahwa mereka tidak mungkin melakukan apa-apa karena ibu Vn ada di situ juga. Ya iyalah! Masa kami berpikir bahwa mereka berdua TIDUR BERSAMA?! Yang benar saja!

It menegaskan pada Vn bahwa masalahnya bukan pada hubungan antara Vn, Tio, dan ibu Vn, tetapi lebih kepada alasan mengapa ibu Vn bisa sampai semarah itu ke kami. Pastinya beliau telah mendengar hal-hal yang lebih miring mengenai Vn, yang beliau kira kami yang telah membuatnya, dan bersikap seperti itu.

Vn tidak menangkap maksud pertanyaan It dan terus menerus mengulang jawaban yang sama : bahwa hubungan Tio dan dia ketika ia menginap di kost Tio tidak aneh-aneh, dan bahwa ia tidak mungkin melakukan hal yang ia kira telah kami tuduhkan kepadanya, karena ibunya ada di situ juga. Selalu, selalu, dan selalu jawaban itu. Aku heran padanya, apa dia tidak menangkap maksud kami? Di dalam mind setnya sudah tercetak ketat bahwa kami menuduh dia yang enggak-enggak ama Tio. Padahal itu salah! Kami hanya ingin tahu, apa yang dia ungkapkan pada ibunya dan pada Tio juga, sampai-sampai kami yang kena omelan macam itu! Pakai ada acara Tio ngejutekin Er segala lagi!! HUH!! Memang siapa dia?? Harusnya dia kan tidak perlu sampai bersikap setidak bijaksana itu!

Yah, masalah selesai (kami anggap begitu) setelah Vn meminta maaf pada kami semua (setelah terjadi banjir air mata oleh Er, yang merasa tersinggung oleh sikap Vn dan Tio,  dan Ar, yang merasa dikecewakan Vn), tetapi tetap saja ada perasaan mengganjal di hati kami. Hubungan kami dan Vn telah menjadi buruk; sesuatu yang kami sesalkan terjadi di antara kami, padahal kan dia baru saja wisuda, yang seharusnya masih diliputi kebahagiaan karena telah lulus cepat.

Sungguh menyedihkan bahwa hubungan pertemanan yang cukup erat semacam itu, hancur akibat prasangka dan ketidakpercayaan antar pihak yang bersangkutan. Hal ini kami jadikan pelajaran, bahwa untuk seterusnya kami akan menjaga mulut kami (peribahasa mulutmu harimaumu benar-benar tepat menggambarkan semua ini!) dari ucapan-ucapan yang menjurus ke arah sesuatu yang merugikan. Selain itu, kami juga belajar bahwa dalam berkawan, kita harus saling mempercayai dan memahami. Wallahu alam.

 

Salam, Dea.

One Response to “TRAGEDI CENDANA, 22 FEBRUARI 2008”

  1. alin Says:

    budheee… karma itu menurutku ada, demi mengurangi masa hukuman di neraka. Jd qt tw skrg dkadalin tmen sndri itu g enak lbih g enek lagi klo ternyata yg dkadalin tau dikasih kadal sama tmennya. DAN orang yg sering ngomongin orang lain harus sadar betul bahwa dirinya jg pasti sama seringnya diomongin orang lain. hidup itu tdk adil tp brimbang.

    sbenernya sih insiden naas ini gak menambah atau mengurangi perasaan apapun dari pihakku karena actually aku g terlibat, cm s4 ikut emosi akibat isi sms “kalian semua” sorry aku g punya waktu luang bwt memperkirakan apa yg dilakukan cowok+cewek+ibu2 dikosan cowok… aku jg g tw klo msalah nginep dmana krn sbenernya aq g pduli, tdk menguntungka…


Leave a Reply