Tren Budaya dan Agama
April 26, 2008
Aku sangat suka Hellsing.
Karena itu pas LEVEL Comics menerbitkan Hellsing, aku pun sangat senang karena bisa membacanya langsung. Aku sudah mengoleksi anime dan OVAnya, lumayan lengkap lho.
Pas kubaca, yaah agak kecewa sih, soalnya gambarnya belum atau nggak sebagus animenya, terus… ada cerita yang bikin aku sebel banget di bagian akhir volume 1 itu. Ceritanya mengangkat tema pertentangan antar agama, dan Islam dimasukkan ke situ. Si Kouta Hirano, pengarang Hellsing itu menyebutkan bahwa gerakan revolusioner Islam yang bertempat di Timur Tengah itu begitu rendah moralnya, sampai-sampai tega (hampir) menembak perempuan. Dia kurang telaah tuh! Padahal sudah tau mau mengangkat tema yang cukup sensitif, tapi dia seenaknya sendiri menyimpulkan sesuatu hanya dari kabar burung saja. Pasti yang disebutnya itu bukan Muslim yang sesungguhnya, tetapi gerakan militan yang mengatas namakan Islam.
Yah, tapi apa yang diketahui oleh orang atau, untuk umumnya, bangsa yang tidak memiliki agama tetap? Menurutku, maaf ya kalau agak SARA, tapi masyarakat Jepang, meskipun bangga akan budaya dan teknologinya, mereka adalah bangsa yang miskin pemahaman spiritual, dalam konteks ini, agama. Memang, selama aku membaca manga karya Jepang, aku sering membaca mengenai upacara-upacara keagamaan dan ritual-ritual khusus keagamaan, tetapi itu hanyalah semacam budaya atau kebiasaan. Common atau culture, bukanlah agama atau religion pada hakikat sesungguhnya.
Mereka merupakan bangsa yang bisa dengan mudahnya berbicara mengenai hari besar agama tertentu, mengikutinya tanpa perasaan atau tanggung jawab moral tertentu. Sebagai contoh, masyarakat Jepang merayakan Natal, tetapi tidak pas tanggal 25 Desembernya, melainkan hanya malam Natal tanggal 24 Desember. Maknanya pun bergeser, dari hari raya keagamaan umat Nasrani, menjadi hari khusus untuk berpacaran dan berkencan. Mereka juga merayakan Valentine, malah pakai ada embel-embel tambahan lagi yaitu White Day yang ditetapkan jatuh pada tanggal 14 Maret, yaitu hari anak-anak laki-laki membalas pemberian cokelat pada anak perempuan yang mereka sukai atau yang telah memberikan cokelat pada mereka sebelumnya di hari Valentine. Begitu mudahnya mereka memakai ikon suatu agama tertentu untuk kesenangan mereka sendiri.
Dalam banyak hal semacam itu, masyarakat Indonesia juga tidak banyak berbeda. Para pemuda dan pemudi Indonesia merayakan Valentine dan Tahun Baru Masehi tanpa (berusaha) memahami makna sesungguhnya di balik semua perayaan tersebut. Mereka membabi buta mengikutinya, menganggap bahwa tren tersebut keren, cool, funky, atau asyik abis, dan apabila tidak mengikutinya, mereka akan dianggap ketinggalan zaman atau katro. Padahal mayoritas penduduk kita beragama Islam, tetapi mereka bahkan tidak memahami batasan yang jelas yang memisahkan antara Islam dan agama lain selain Islam. Semua budaya yang dianggap tren masa kini yang banyak diusung oleh media massa dan masyarakat modern sekarang ini merupakan budaya serapan luar yang bukan budaya Islam.
Bukan berarti kita sebagai seorang Muslim harus menutup diri terhadap budaya luar, bukan itu. Kalau begitu, maka hasilnya seperti para pengikut aliran sesat Islam yang mengejawantahkan Islam sesuai otak mereka yang sempit dan picik. Hal semacam itu juga bukanlah hal yang baik dan patut diharapkan dari Muslim yang baik. Sebagai orang Muslim, kita harus banyak belajar dan menelaah berbagai macam hal di luar budaya dan agama kita sendiri, untuk menyerap ilmu sebanyak-banyaknya. Pembelajaran ini harus disertai dengan pemahaman agama yang kuat, jadi kita tidak lantas terseret arus budaya lain yang kita telaah. Islam adalah agama yang luas dan fleksibel, oleh karena itu ia mengharuskan umatnya untuk menjadi umat yang berwawasan luas dan fleksibel. Maka jadilah seperti itu.
Kembali pada Hellsing, tentunya aku tetap akan mengikutinya sampai volume terakhir. Aku menyukai ceritanya, terpisah dari apakah ia mengusung tema konflik agama atau bukan. Karena aku yakin Kouta Hirano juga tidak bermaksud membuat hal seperti itu menjadi titik pokok cerita.
Singkat kata, aku mengakui bahwa aku sendiri belum menjadi Muslim yang baik. Aku menuliskan hal ini bukan karena aku merasa hebat sendiri, melainkan hanya mengungkapkan keprihatinanku pada bangsa kita yang ahli bongkar pasang ini. Bongkar pasang dalam arti, kita bisa dengan mudahnya memakai budaya lain dan mengakuinya sebagai identitas kita, sementara di sisi lain, budaya kita sendiri kita telantarkan.
Semoga untuk seterusnya kita bisa menjadi Muslim yang kaffah, yang memahami luar dalamnya agama kita yang mulia ini. Amin!
Salam, Dea.
Rujukan : http://alinananty.wordpress.com/ halaman “Komik Hellsing Menyerang Islam?”