Beranda » Harian » PISANG MOLEN HEBOH

PISANG MOLEN HEBOH

Di kontrakanku, ada seorang teman yang menyambi berjualan pisang molen. Pisang molen yang dijualnya kami sebut sebagai pisang molen jumbo, karena ukurannya yang agak melebihi ukuran pisang molen normal. Rasanya juga tidak buruk, meskipun terasa agak ‘ngglepung’ (tebal; bertepung).

Ukurannya itu lho, yang sering jadi masalah. Setiap orang yang tertarik untuk membeli, pasti mundur teratur setelah melihat ukurannya yang jumbo. Atau membelinya setelah menemukan kawan untuk berbagi makan. Ada saja komentar dari orang-orang yang membeli (atau tidak jadi membeli dan hanya melihat sembari terkagum-kagum) pisang molen tersebut.

Suatu hari, aku baru saja pulang kuliah dan mendapati kawanku yang bernama Rubi sedang main di rumah. Ia duduk di sofa ruang tamu dan di hadapannya, di meja ruang tamu, ada nampan besar berisi pisang molen tersebut. Melirik nampan yang masih cukup penuh itu (padahal sudah sore, sedangkan molen itu diantarkan sejak pagi, jadi seharusnya sudah habis), aku berkomentar, “Lagi-lagi jualan Erna belum habis juga. Ukuran big mac sih.”

Rubi ikut mengamati molen itu dan akhirnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, ia menimpali, “Molen segede ini sih gak bisa buat kencan.”

Keheranan, aku bertanya padanya, “Mengapa begitu?”

“Habis, kalo cewek kencan bareng cowok kan, biasanya jadi jaim. Mau makan, mau ngapa-ngapain kan jaim. Tapi pas makan molen jumbo ini, gak bisa jaim dong. Kan makannya harus mangap lebar, biar bisa masuk satu gigitan. Gak jaim ah!”

Aku terlongong dan akhirnya ketawa kebahak-bahak. Begitu juga Rubi (yang geli setelah menyadari isi kata-katanya barusan). Ya ampun, bener juga sih. Kalo makan molen segede ini sih, harus tahan malu deh. Habis kalo makan sedikit-sedikit, gak puas. Sedangkan kalo makan sekaligus satu gigitan penuh, meskipun puas, engsel mulut harus bekerja ekstra.

Kali lain, ada juga kawan yang berkomentar bahwa bentuk molen itu tidak ubahnya seperti pentungan polisi saja. Dan kalau dia sampai makan, dia khawatir lambungnya yang mungil (?) harus meregang ekstra lebar hanya untuk menampung sebuah molen. Aku terkikik geli dibuatnya. Kupikir-pikir lagi, memang sih, ukuran molen ini agak di luar batas kemanusiaan (gak manusiawi gitu), soalnya, seperti kata Ucie, mungkin pembuat molen itu kurang toleran terhadap kapasitas perut manusia.

Namun mau bagaimana lagi, kata Erna, jualan tetap harus jalan terus. Jadilah, molen-molen itu selalu ada di meja ruang tamu kami, tergolek tak berdaya, menunggu jamahan tangan orang-orang yang kelaparan. Benar-benar molen jumbo biang kehebohan!

Tembusan (kayak surat fakultas aja) :

  • Alin; Tanah 41; kawan gilaku dalam merancang ide-ide tulisan nan sinting n miring. Semoga kita bisa terus menemukan ide-ide segar dan gila untuk ditulis dan dikembangkan.
  • Erna; Manajemen 41; kawanku si penjual pisang molen jumbo. Ganbatte jualannya ya!!
  • Ucie; KPM 41; si cablak yang doyan makan (meskipun badannya kecil).
  • Rubi; SEIP 41; meskipun gak sekontrakan, tapi sering main ke rumah. Komentar kamu mengenai pisang molen jumbo itu sangat mengena di hatiku, sampai-sampai tega bikin tulisan kayak gini.
  • Kawan-kawan sekontrakanku yang lain : Arta, Vina, Ita, Endang, Nana, Dian; yang mengalami nasib sama denganku → menghadapi senampan molen jumbo di meja ruang tamu setiap kami duduk menonton TV.

Kunjungi blogku di lovelycomics.wordpress.com

Kasih komentar ya!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s