Beranda » Harian » Perang Gula Semut

Perang Gula Semut

Jumat siang ini, seperti biasa kami praktikum mata kuliah Pati dan Gula. Dan seperti biasa, para cewek datang lebih dahulu dibanding para cowok yang harus shalat Jumat. Praktikum kali ini adalah membuat gula invert dan gula semut.

Kelompok kami mendapat giliran membuat gula semut dari gula kelapa, setelah seminggu sebelumnya kami membuat gula invert. Untuk membuat gula semut, kami membutuhkan wajan, pengaduk, ayakan, dan baskom. Bahan yang dibutuhkan adalah gula kelapa, gula pasir, air, dan santan atau minyak nabati. Sebenarnya, untuk membuat gula semut asli, dibutuhkan nira kelapa. Tetapi karena berbagai keterbatasan yang ada, kami memakai gula kelapa jadi saja.

Masalah pertama adalah kami kekurangan kompor untuk memanaskan larutan gula. Selain itu, gas untuk bahan bakar kompor juga habis. Jadilah kami berebut kompor. Hehehe, jadi kayak arena para cewek perang kompor saja, begitu pikirku geli. Akhirnya kami bergiliran memanaskan larutan gula (tentunya dengan banyak tawa dan canda yang membuat laboran kami geleng-geleng kepala tak habis pikir).

Larutan gula dipanaskan hanya supaya gula itu melarut dan homogen. Kami memutuskan untuk mendiamkan larutan itu, tidak memanaskannya lebih lanjut, selain takut gula itu mengalami karamelisasi, kami juga menunggu para cowok datang. Membuat gula semut itu secara keseluruhan mudah dan cepat, tetapi proses akhirnya itu yang bermasalah. Untuk membentuk kristal gula yang bagus, adonan gula kental yang telah diberi santan dan gula pasir sebagai biang, harus segera didinginkan dan diaduk kuat-kuat. Tentunya tenaga cewek tidak bisa menangani masalah semacam itu. Kami tetap butuh tenaga cowok untuk mengaduk.

Pukul 1 lewat, para cowok datang dari masjid setelah shalat Jumat (mana saat itu hujan deras lagi). Kami mulai memanaskan gula dan menambahkan santan. Setelah terlihat mengental kami pun menambahkan gula pasir biang …..dengan cerobohnya. Ternyata larutan gula itu belum cukup kental dan matang untuk ditambahi gula pasir biang. Hasilnya, kami harus bekerja ekstra keras pada saat pengadukan akhir.

Adonan gula kental yang terbentuk kami aduk kuat-kuat, tetapi kristal gula yang terbentuk tidaklah kecil dan halus seperti yang diharapkannya, melainkan besar-besar dan bergumpal. “Wah, gagal nih,” gumamku lemas.

“Heh! Jangan nyerah dong. Ayo tetap aduk!” Ichsan dan yang lainnya tetap bersemangat mengaduk gula kami yang kacau. Akhirnya aku pun kembali mengaduk sambil pesimis gula itu akan mengecil ukurannya.

Lama kami mengaduk, ditingkahi ribut suara wajan beradu dengan pengaduk, ukuran gula itu tidak juga menjadi halus, malahan semakin menggumpal. Akhirnya aku meminjam mortar dan ulekan sambal dari lab sebelah, dan mulai menggerusi gumpalan-gumpalan gula tersebut. “Alamak, keras banget sih,” kataku kesal sambil mengamati mortar yang ikut tertempeli endapan gula.

Akhirnya, dengan segala daya usaha kami berjuang, ukuran partikel gula itu dapat halus juga meskipun tidak semuanya. Laboran kami juga tidak keberatan dengan ukuran gula kami yang disebutnya “bukan gula semut, tapi gula kecoa” itu. Kami hanya bisa tertawa (sambil terengah-engah kelelahan) mendengar istilah gula kecoa itu.

Tidak hanya kami yang berjuang dengan pengaduk dan wajan gula kami. Beberapa kelompok lain juga berjuang dengan adonan gula mereka, meskipun tidak separah kami. Suara pengaduk kayu beradu dengan wajan logam berdentang-dentang riuh rendah, canda tawa bersahut-sahutan, obrolan ngalor ngidul, semua itu menambah keramaian lab TK menjelang sore itu. Benar-benar perang gula yang mengasyikkan!

Sungguh menyenangkan berkumpul bersama kawan-kawan dan melakukan praktikum Pati dan Gula yang heboh ini. Mungkin hal ini akan selalu menjadi kenangan indah kami semua, perang gula semut ini, baik setelah kami lulus maupun jauh setelah kami tua nanti.

Untuk :

  • Kawan-kawan lab seperjuanganku dalam praktikum Pati dan Gula ini : Ichsan, Nova, Tutu, Kak Fanani, Kak Frans, dan Supardi; tetap berjuang bersama dalam perang gula dan pati ini.
  • Laboran kami, Bu Rini; maaf ya Bu, kami sering bikin ribut di lab dan membuat Ibu jengkel.
  • Kawan-kawan sesama praktikum yang tak bisa disebut satu per satu; mari kita sama-sama berjuang.

Dengan penuh cinta,

Dea.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s