Beranda » Aneka Rupa » Mimi, sang Mama Kucing

Mimi, sang Mama Kucing

Di kost kami ada beberapa ekor kucing kesayangan. Tadinya hanya ada dua ekor, satu besar dan yang satu lagi kecil, keduanya betina. Yang besar kami beri nama Mimi, sedangkan yang kecil dinamai J-Lo (tadinya Cici, lalu Caca, kemudian Jelo, singkatan dari Jelek Lo, soalnya dia berulah dengan BAB di kasur Ita).šŸ˜€

Kemudian Mimi beranak dua ekor, semua betina, dinamai Lucci dan Califa (Ita penggemar One Piece…).šŸ™‚

Kami sangat menyayangi kedua kucing itu, dan tentu saja dua tambahan baru tersebut. Terutama Ita, yang pertama kali memungut mereka. Dengan rajinnya, ia memandikan dan memberi makan mereka secara teratur.

Minggu ini Ita sakit. Jadinya baik Mimi dan J-Lo agak terlantar. Kami pun mengambil alih pengasuhan mereka. Meski tidak serajin Ita, kami bergantian memberi makan mereka. Kardus berisi Lucci dan Califa kami taruh di ruang tamu, alih-alih di kamar Ita, supaya Mimi bisa lebih mudah menyusui anak-anaknya.

Aku sering mengamati Mimi menyusui anak-anaknya. Dari semua kucing yang kukenal (emang pake kenalan dulu ya??), Mimi merupakan kucing terkalem, tersopan, dan terpendiam. Apalagi jika dibandingkan dengan kucingku yang bandel dan hobi naik meja, atau menempel di kaki orang sambil mengeong-eong ribut. Dia juga merupakan ibu kucing yang berdedikasi tinggi terhadap anak-anaknya (ciee…). Ketika menyusui anak-anaknya, dia bisa berada dalam posisi yang menggelikan dan agak menyedihkan untuk dilihat (misalnya :Ā melingkar melingkupi anak-anaknya, dengan posisi kepala tengleng nggak jelas; yang sering membuatku geleng-geleng kepala karena heran, kok bisa ya, dia tidak sakit leher ketika menyusui dalam posisi begitu untuk waktu lama…).šŸ˜€

Saking jarangnya mengeong, aku sampai penasaran seperti apa sih suara Mimi. Sekali waktu aku pernah mendengarnya mengeong, tetapi bukan dalam rangka meminta makanan atau dielus-elus,Ā melainkan iaĀ mengeong menyapa anak-anaknya (mungkin sekedar mengobrol antar ibu dan anak, yang jika kuperhatikan, seperti biasanya manusia yang ngerumpi, saling bersahut-sahutan dengan suara pendek gak jelas dan ramai).šŸ˜€

Mimi selalu duduk diam memandang kami jika ia mau meminta makan, seolah-olah menunggu diberi. Begitu juga ketika ia menunggu diizinkan masuk rumah. Aku sering berpikir, jika saja ia dilahirkan sebagai manusia, mungkin saja ia terlahir sebagai seorang lady.

Ia juga termasuk sering sekaliĀ menjenguk anak-anaknya. Mungkin kalian merasa aneh mendengarnya, tetapi memang biasanya jarang kutemui induk kucing yang begitu sayang pada anak-anaknya, tetapi tidak bersikap posesif dan memusuhi manusia. Tidak, Mimi sangat sayang pada anak-anaknya dan sekaligus juga mempercayai kami. Satu hal yang terkadang masih membuatku heran adalah kebiasaan Mimi menghembuskan napas panjang setelah selesai menyusui dan meninabobokan anak-anaknya. Seperti manusia saja! Aku menganggapnya seolah-olah ia menghela napas memikirkan beban hidupnya yang berat (kayak rakyat yang mengeluh harga sembako dan BBM naik).šŸ˜€

Yang membuatku sayang pada Mimi melebihi kucing-kucing lain (bahkan terhadap kucingku juga) adalah pandangan matanya yang kalem dan sayu ketika memandang kami. Dia memandang kami dengan pandangan yang menurutku agak tidak wajar untuk seekor kucing, yaitu pandangan penuh kepercayaan. Kucing adalah majikan bagi dirinya sendiri. Mimi masih menganut prinsip itu, tetapi ia juga percaya sepenuhnya pada kami. Jika tidak, maka dari awal ia pasti sudah berusaha memindahkan anak-anaknya ke tempat lain, dan bukannya meninggalkannya di rumah kami.

Dia juga mau mengalah pada J-Lo yang egois, terutama dalam hal makanan. Ia mengizinkan J-Lo makan lebih dahulu dan menunggu sampaiĀ kucing yang lebih kecil ituĀ selesai makan, barulah ia makan. Padahal normalnya kucing pasti sudah berebutan makanan, saling menggeram untuk memperingatkan kawannya mengenai teritori makanannya. Sungguh suatu sikap yang aneh…

Ia juga mau melayani J-Lo bermain, seperti sedang mengasuh adiknya sendiri saja. Padahal mereka tidak ada hubungan darah sama sekali. Ia menanggapi apabila J-Lo bermain dengan ekornya yang panjang dan balas menggelitiki perut J-Lo. Hanya sekali saja ia terlihat memarahi J-Lo (setidaknya begitulah yang kami lihat waktu itu), yaitu ketika J-Lo cemburu pada anak-anak Mimi yang baru lahir (karena dianggap merebut perhatian Mimi darinya) dan mengganggu mereka. Mimi menggeram dan mengancam J-Lo menjauhi anak-anaknya. Dan sejak saat itu, J-Lo tidak berani mengganggu anak-anak Mimi lagi.

Mimi kucing yang unik. Setidaknya begitulah menurut kami. Yang terpenting kami semua menyayangi dia dan berharap dia selalu sehat, demi dirinya sendiri dan juga demi anak-anaknya.

Salam, Dea.šŸ™‚

N.B. Semoga Ita cepat sembuh. Dia sudah ditunggu oleh kucing-kucing kost kami yang manis.

2 thoughts on “Mimi, sang Mama Kucing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s