Beranda » Opini » Komersialisasi Sekolahan?? Wajarkah?

Komersialisasi Sekolahan?? Wajarkah?

Beberapa hari ini aku membuka banyak email yang masuk ke milis SMANSA Bogor. Maklum aku juga alumnus sana. Banyak sekali keluhan mengenai komersialisasi almamater kami tercinta itu.

Awalnya dari mulai dibentuknya kelas berbasis internasional atau SBI, dengan bahasa ajar bahasa Inggris dan ruang kelas ber-AC. Uang masuk dan uang pangkal di SMANSA jadi melangit, yaah… pokoknya segala-galanya pake duit lah. Dan semua jenis komersialisasi massal itu sampai masuk ke koran lokal.

Sungguh menyedihkan memang. Teman-temanku banyak yang menyesalkan kondisi ini, dan banyak berkomentar, mulai dari keluhan bersambung orang tua mereka sampai usulan untuk melengserkan kepsek. Aku sih jujur tidak banyak berkomentar mengenai hal itu.

Kenaikan biaya pendidikan sama seperti kenaikan biaya lain di negeri kita ini : signifikan dan sejalan dengan kenaikan harga BBM. Aku kurang tahu apa korelasinya, tetapi begitulah kenyataannya. Jadi, aku menganggap bahwa komersialisasi sekolah, selama masih dalam kisaran tertentu adalah suatu kewajaran biasa.

Tetapi jika kenaikan biaya (baca : penaikan biaya) sekolah ini dijadikan sebagai tolok ukur keunggulan suatu sekolah, aku benar-benar tidak setuju. Sekarang ini, banyak sekolah yang mulai ‘menjual diri’nya dan mengklaim bahwa dirinya adalah sekolah unggul, dengan biaya masuk selangit. Pada akhirnya, sekolah itu bukan lagi sekolah unggulan, karena melancarkan segalanya melalui uang. Namanya jadi sekolah matre dong??😦

Upgrading suatu sekolah di negeri kita ini terkadang (baca : seringnya) tidak disertai dengan kesiapan dan persiapan baik dari staf pengajarnya maupun dari para calon muridnya. Sehingga mereka keteteran mengikuti kurikulum sekolah yang melejit bagaikan roket menuju dunia internasional (pengajaran pake bahasa Inggris, kelas internasional). Bayangkan, masak temanku yang punya sepupu seorang pengajar di PG mengatakan bahwa, sebagian besar murid almamaterku yang katanya kelas internasional itu malah tidak mengerti pelajaran mereka karena semua pelajaran diajarkan dalam bahasa Inggris yang tidak mereka mengerti??? Terus bagaimana dong???😦

Intinya, mahalnya biaya pendidikan di negeri kita ini menyebabkan para orang tua tercekik. Ibuku saja pusing tujuh keliling memikirkan biaya masuk SMA adikku. Untungnya dia masuk sekolah yang tidak terlalu mahal uang masuknya (meski aku merasa bahwa sekolahnya itu kurang bermutu… sori aja ya…). Jadiiii, aku merasa komersialisasi sekolah seperti yang dilakukan oleh SMANSA Bogor ini sudah memasuki taraf keterlaluan. Maunya unggul, malah jadinya ditinggalkan oleh peminatnya karena kemahalan. Kasian deh lu…

Salam, Dea.

N.B. Untuk para kawanku sesama alumni SMANSA Bogor, tetap semangat dan vokal dalam membangun almamater sekolah kita. Aku bukanlah seorang idealis, melainkan seorang realis, tetapi aku sangat senang mendengar kevokalan dan kepedulian kalian semua terhadap almamater kita tercinta. Semangat!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s