Beranda » Aneka Rupa » Kucingku yang Kekanak-kanakan

Kucingku yang Kekanak-kanakan

Aku suka kucing. Sudah jelas kan, dari beberapa tulisanku yang lalu?

Nah, di rumah aku punya seekor kucing jantan. Warnanya abu-abu garis-garis, ada pola hitamnya juga di punggung. Kuberi dia nama Pepenk, singkatan dari pemuda pengkor. Pengkor artinya pincang, soalnya dulu pas dia masih kecil, kakinya pernah terlindas mobil ibuku sampai patah dan jalannya pincang. Seiring dengan waktu, ia sembuh, tetapi bentuk kakinya tetap saja kurang pas dan cara jalannya cacat.

Sebenarnya ia punya saudari dua ekor, yang seekor lagi mati pas insiden pelindasan itu. Yang seekor lagi masih hidup sampai sekarang, tetapi sudah tidak pernah mampir lagi ke rumah, kuberi dia nama Once, singkatan dari oon nih cewe😀

Berhubung diurus sejak masih kecil, Pepenk manja pada kami. Kerjaannya melendot di kaki orang, apalagi kalau kami duduk, dia langsung saja meloncat dan bercokol di pangkuan kami. Karena ibuku dan aku sering mengusir dia kalau dia sudah bergelung di pangkuan, dia paling suka bergelung di pangkuan adikku, yang suka balas memeluknya. Hangat, katanya, padahal Pepenk kan sering menyambangi tong sampah, hii jorok nggak sih?! Namanya juga kucing kampung. Tapi tetep saja adikku suka mengeloni Pepenk🙂

Pepenk yang manja, tingkahnya juga kekanak-kanakan. Dia senang bermain layaknya anak kecil saja, padahal sekarang dia sudah jadi kucing dewasa lho. Kalau jalan, ekornya menjulang, terangkat ke atas seperti anak kucing. Padahal, selama aku memperhatikan kucing, ketika mereka dewasa, ekor mereka dengan sendirinya akan merendah, dan bukannya berdiri ketika mereka berjalan. Posisi ekor seperti itu menunjukkan bahwa kucing itu masih merasa seperti anak kucing saja. Mungkin karena terbiasa diurus manusia sejak bayi, dan bukannya hidup liar seperti kucing jalanan.

Dulu aku pernah memelihara kucing yang mirip Pepenk, sama-sama jantan dan motif bulunya mirip. Dia juga menunjukkan ciri-ciri yang sama seperti Pepenk sekarang : ekor berdiri ketika berjalan, suka melendot di kaki dan bergelung di pangkuan orang, manja, cerewet, dll. Ternyata hanya kucing jantan saja yang seperti itu. Beberapa kucing betina yang pernah kupelihara tidak seperti itu tuh! Mereka justru lebih tenang dan mandiri dibandingkan kucing jantan yang rumahan. Mungkin karena mereka harus melahirkan anak ya, jadi mau tidak mau, mereka harus bersikap dewasa, tau deh..😕

Intinya, aku sayang kucingku itu, tetapi kalau dia sudah mulai ribut dan mengacau tidak jelas, aku tidak segan untuk memarahi dan menendangnya keluar rumah. Hehehe, sayang kucing juga pilih-pilih dong!

Salam, Dea.

N.B. Kalau kucingnya kayak Zels, aku bakal sayang-sayang terus deh!😀

3 thoughts on “Kucingku yang Kekanak-kanakan

  1. J-Lo lagi picek, mata belekan mulu terus bawaanya molor aja, mana udah lama gak mandi jadi bau gitu tapi dia tetep cantik kok😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s