Beranda » Opini » Dengarkanlah…

Dengarkanlah…

Aku teringat, sekitar beberapa hari yang lalu, aku sempat menginap di rumah salah satu saudaraku. Betapa beban mental tekanan yang kurasakan di rumah itu menekanku! Rada lebay ya, tetapi aku selalu merasa bahwa keluarga saudaraku itu sama sekali tidak pernah santai dan mau bertoleransi mendengarkan, meski hanya sebentar. Yang ada di dalam kamus mereka hanyalah kata-kata mereka sendiri. Tidak ada ruang bagi suara dan pendapat orang lain.

Tidak mendengarkan dengan baik sama dengan tidak memahami. Setidaknya begitulah menurutku. Bagaimana kau bisa memahami sesuatu jika kau menutup telingamu rapat-rapat dari semua informasi luar?? Kau hanya akan menjadi katak dalam tempurung yang keakuannya tinggi mencapai langit-langit tempurung.:mrgreen:

Mendengarkan sepertinya juga bukan budaya bangsa kita. Bagaimana tidak? Jika saja para pemuka rakyat itu mau mendengarkan sedikit saja suara rakyat yang menderita di bawah kursi empuk mereka, maka mungkin bangsa ini akan menjadi sedikit lebih baik dari sekarang…

Mendengarkan dalam konteks ini bukanlah mendengarkan secara harafiah, melainkan lebih kepada menerima dan bertoleransi terhadap orang lain. Tentunya mendengarkan dalam arti yang sebenarnya juga berperan dalam bentuk empati ini. Dengan mendengarkan, kau akan mendapatkan pencerahan baru mengenai berbagai macam hal, baik mengenai dirimu sendiri di mata orang lain, mengenai orang lain itu sendiri, atau mengenai lingkungan. Dengarkanlah dalam diam dan tenang, dan kau akan mengerti. Mengerti sepenuhnya dan dengan begitu kau akan bisa menentukan langkah yang akan kau ambil selanjutnya, langkah untuk menentukan keputusanmu berikutnya.

Dengarkan dan pahamilah. Aku selalu berusaha mendengarkan orang lain dan masalah mereka, atau hanya sekedar cerita mereka, sebagai kompensasi, mereka akan mendengarkan pembicaraanku. Dunia ini berjalan tidak hanya satu arah belaka, melainkan dua arah. Harus ada timbal balik antar dua orang, barulah komunikasi dalam arti sebenarnya dapat terwujud. Sampai sekarang aku masih saja heran, mengapa ada orang-orang yang seperti keluarga saudaraku itu, tidak mau mendengarkan orang lain. Hanya dirinya sendiri yang ada. Betapa tertekannya saudaraku setiap kali dia ada di rumah, di mana rumah seharusnya menjadi tempat untuk melepas penat dan lara, tetapi justru rumahnya itulah yang selama ini menjadi sumber penat dan laranya… kan anehšŸ˜•

Dengarkan dan pahamilah. Mungkin sampai aku tega buat tulisan kayak gini, aku belum menjadi pendengar yang baik. Aku tidak berniat menggurui, hanya ingin membagi opini. Dengan begitu, bagi siapa pun yang belum berusaha mendengar, maka belajarlah untuk mendengar. Untuk pertama kali, dan seterusnya. Tidak akan rugi deh…

Salam, Dea.

N.B. Aku sering heran, sejak dulu banyak orang yang melihatku sebagai pribadi yang bisa diajak curhat. Padahal aku tidak punya kompetensi menasihati, begitu awalnya pikirku. Ternyata mereka beruneg-uneg bukan karena ingin meminta nasihat, melainkan hanya untuk sekedar melepas beban hati dan ingin didengarkan. Karena itulah aku berusaha untuk mendengarkan. Dan yang jelas nggak ’ember’. Hehehe….šŸ˜›

One thought on “Dengarkanlah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s