Beranda » Aneka Rupa » Komik Lokal Makin Ciamik!

Komik Lokal Makin Ciamik!

Hai!

Lama tidak menulis di blog ini, sekarang saya malah mau membahas komik lokal nih.

Komik Indonesia sekarang sudah semakin berjaya dengan munculnya komunitas komik lokal di bawah penerbit MnC, yaitu Koloni (Komik Lokal Indonesia). Dengan wadah Koloni tersebut, MnC berusaha mengumpulkan karya-karya komik anak bangsa yang bermutu dan memasarkannya tanpa kalah bersaing dengan komik luar.

Saya, jujur saja, baru benar-benar membeli dan membaca satu judul dari komunitas ini, yaitu karya komikus muda bernama Rimanti N. yang berjudul PACE: The Guilty. Goresannya bagus dan rapi, penataan panelnya apik, pewarnaan dan toningnya keren. Maklum, Mbak Rimanti dibantu oleh dua asisten dalam pengerjaan komik ini, yang memakan waktu sampai 1 tahun (soalnya si mbak masih duduk di bangku SMU, yang oleh karenanya harus pintar-pintar membagi waktu antara belajar, main, ngomik, dan sebagainya).

Dari satu karya ini, saya melihat adanya peningkatan kualitas dari komik lokal kita, terutama dari segi gambar, artistik, dan cerita. Kualitas gambar lebih bagus, rapi, dan apik–tidak terkesan seadanya. Komikus Indonesia juga mulai berinisiatif menggunakan ‘jasa’ asisten. Dengan begitu, selain karya menjadi lebih terorganisir, beban kerja juga menjadi lebih ringan. Artistik…kita tahulah kemampuan MnC dalam menciptakan sampul komik yang keren. Tetapi hal ini tentunya juga didukung oleh peran serta sang komikus sendiri, dibantu oleh asisten, editor, dan ahli desain yang bersangkutan. Cerita…hmm, selain komik PACE ini–yang mengambil tema dewasa, dengan setting dunia kerja yang rumit dan menarik; salut deh buat Mbak Rimanti, yang masih SMU dan belum bekerja formal (saya kira begitu…) atas risetnya yang cukup mendalam mengenai tema yang dipaparkan dalam komiknya ini–saya masih belum tahu banyak, jadi saya belum mau berkomentar lebih jauh mengenai  hal ini. Pastinya ada peningkatan kualitas cerita, mulai dari keberagaman tema (dewasa–PACE, roman remaja, fantasi–Satu Atap, fiksi historis–Merdeka di Bukit Selarong, dsb) sampai ‘keberanian’ untuk menyertakan konsep dan budaya lokal dalam cerita dan topik yang diusung. Komikus lokal sekarang ini tidak malu mengusung tema keseharian lokal (pengasong, anak jalanan, sekolah negeri, dsb), menggunakan latar belakang dan setting lokal, menciptakan karakter-karakter dengan nama lokal–nggak niru/nyontek nama gaya Jepun lagi–dan penggambaran yang lebih membumi atau merakyat. Bahkan mereka juga berani menggunakan nama pena lokal atau bahkan nama sendiri dalam berkarya(saya yakin nama Rimanti Nurdarina itu nama asli, bukan nama pena^^). Salut untuk mereka semua!

 

Dulu, saya sering merasa kecewa setelah membaca komik-komik lokal (yang masih diproduksi oleh Elex–no offense, soalnya ada juga yang bagus, seperti White Feather-nya Archie the Red Cat…punya saya hilang digondol orang dan susah banget mau beli lagi karena tidak tersedia lagi dimana pun, hiks…), karena kualitas gambar dan ceritanya sangat rendah. Kualitas gambar bagi saya bukan merupakan prioritas utama, karena gaya gambar merupakan hal yang personal dan unik dari tiap-tiap orang: ciri khas dari sang komikus itu. Tetapi segi cerita bagi saya merupakan hal terpenting. Karena cerita yang bagus dapat mengangkat kekurangan-kekurangan lain yang dimiliki suatu komik dan menjadikannya karya yang lebih berbobot dan berkualitas.

 

Contoh paling jelas adalah Nodame Cantabile dan Piano Hutan. Jujur saja, kualitas gambar para karakter dari kedua manga itu tidak terlalu bagus (yang untungnya didukung oleh kualitas gambar real dari latar belakang dan alat musik yang diceritakan), seolah cenderung “sekedarnya”. Tetapi kekuatan kedua manga itu adalah ceritanya yang sangat kuat, menyentuh, dan berbobot, serta disertai oleh dasar riset yang mendetail mengenai hal yang dipaparkan, dalam hal ini, dunia musisi dan musik itu sendiri (baca: piano). Cerita yang kuat dan menyentuh itu membuat kualitas gambar karakter yang terkesan ‘seadanya’ itu menjadi tidak penting lagi.

 

Soo, saya menjadi penasaran nih, ingin mencoba membaca komik-komik lokal lain karya para komikus yang tergabung dalam Koloni. Salut deh sama penerbit MnC dan Mas Gupta selaku Editor utama yang berinisiatif mendirikan Koloni ini (sebenarnya saya juga kurang tahu siapa yang berinisiatif mendirikan koloni tersebut, tetapi Mas Gupta merupakan pentolan MnC yang cukup terkenal ^^). Semoga komik lokal kita selalu berjaya!

Jayalah Komik Indonesia!!

Salam, Dea.

2 thoughts on “Komik Lokal Makin Ciamik!

    • iya, itu juga saya akui, soalnya orang Indonesia masih sering malas melakukan riset untuk menelaah cerita. sebagai bukti, liat saja sinetron Indonesia, semuanya tidak berbobot dalam hal cerita dan alur. beda banget dengan drama Korea dan Jepang. yah, masih mendinglah ada peningkatan kualitas dari segi gambarnya dulu, pelan-pelan🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s