Beranda » Aneka Rupa » Mbah Maridjan: Potret Keteguhan Hati atau Sikap Keras Kepala yang Bodoh?

Mbah Maridjan: Potret Keteguhan Hati atau Sikap Keras Kepala yang Bodoh?

Pertama-tama, mari kita berdoa bagi para korban bencana alam di Indonesia, baik di Mentawai, Wasior, dan Merapi. Semoga mereka diberi kekuatan dan harapan untuk terus bertahan di tengah gempuran musibah ini. Amin.

Tulisan ini hanya sebuah opini pribadi dari saya sebagai orang awam, melihat sikap dan tindakan seorang Mbah Maridjan dari kacamata saya.

Banyak orang yang memuji-muji sikap dan tindakan Mbah Maridjan ketika beliau pada akhirnya menemui ajal setelah rumahnya diterjang awan panas Merapi sebagai sebuah tindakan yang heroik dan berani. Tindakan yang mencerminkan keteguhan hati dan amanah dalam mengemban misi sebagai juru kunci Merapi.

Tetapi benarkah begitu?

Apa yang saya lihat adalah suatu kebodohan.

Mbah Maridjan adalah orang yang bodoh karena menutupi sikap keras kepalanya yang kolot dengan tindakan sok heroik. Dia terlalu menganggap tinggi posisinya sebagai juru kunci Merapi, menganggap bahwa dirinya ‘invincible’ dari amukan gunung berapi tersebut. Hanya karena ia merasa bahwa dirinya adalah Sang Juru Kunci. Mbah Maridjan seolah melupakan bahwa dirinya hanya seorang manusia biasa yang tidak berdaya di hadapan alam semesta dan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Banyak pendapat yang sudah saya dengar mengenai sikap keras kepala beliau (dan sekitar 30 orang lainnya yang tewas diterjang ‘wedhus gembel’ bersama beliau). Beberapa di antaranya pro dan ada juga yang kontra (seperti saya). Pendapat paling menarik yang saya sempat dengar justru datang dari gubernur DIY sendiri, Sri Sultan Hamengkubuwono X; yang menyatakan bahwa beliau menyesalkan sikap Mbah Maridjan yang bersikeras tidak mau ‘turun gunung’. Beliau menyatakan bahwa sikap tersebut adalah ‘suatu kebodohan’. Pendapat yang kurang lebih sama juga diutarakan oleh aktor kawakan dan sutradara Deddy Mizwar.

Jadi, sikap keras kepala Mbah Maridjan yang berbuntut maut bagi dirinya ini adalah suatu tindakan heroik ataukah sekedar kebodohan? Tergantung kacamata orang yang melihat. Bagi saya, heroisme tidak ditunjukkan oleh tindakan ngotot yang kolot. Apabila Mbah Maridjan (saat itu) menyadari potensi negatif dari tindakannya, bahwa kekeras kepalaannya itu akan menghantarkan sekitar 30 nyawa sebagai korban ‘wedhus gembel’, tentunya ia saat ini sudah sangat menyesal. Tindakannya yang (sok atau dipandang) heroik justru merenggut korban jiwa yang tak perlu.

Ini juga opini pribadi: apakah sebenarnya juru kunci Merapi itu? Apa fungsi dan perannya yang sesungguhnya?

Juru kunci, sesuai dengan namanya, merupakan sosok orang yang (pada zaman dahulu) mengawasi atau menjaga obyek atau lokasi tertentu. Pada beberapa situs atau tempat, seperti kompleks pemakaman kuno, ia benar-benar memegang kunci ke arah makam yang (dianggap) sakral. Dalam kasus Merapi, saya menganggap bahwa posisi juru kunci ini lebih ke arah pengawas. Juru kunci Merapi adalah orang yang bertugas mengawasi ‘perilaku’ si gunung berapi dan pada akhirnya merupakan sosok yang berhak atau berwewenang memberitahukan situasi kepada sang raja yang berdiam di Keraton Yogyakarta. Fungsi itu adalah fungsi juru kunci pada zaman dahulu kala, pada masa dimana peralatan pendeteksi gejala vulkanik dan semacamnya belum ada dan sistem informasi dan komunikasi masih sangat terbatas. Peran juru kunci (pada zaman dahulu) sangat vital sebagai pengabar berita buruk atau bencana (baca: bahwa gunung akan meletus).

Tapi pada masa kini? Posisi tersebut hanyalah warisan masa lalu. Ada, namun fungsi aslinya sudah tergantikan oleh orang lain dan perlengkapan yang sudah lebih canggih dan akurat (baca: ahli vulkanologi dan peralatan modern pendeteksi aktivitas gunung berapi).

Jadi, apa fungsi dan peran juru kunci Merapi saat ini?

Tidak ada.

Gelar Juru Kunci Merapi hanyalah menjadi sebuah gelar semata, sebuah kebanggaan (atau kesombongan) warisan masa lalu yang tidak seharusnya dilebih-lebihkan atau bahkan didewakan.

Hendaknya setiap orang ingat bahwa gelar atau jabatan hanya akan menjadi kata-kata tak bermakna di hadapan Tuhan nantinya.

Yah, ini hanya opini pribadi sih…

Salam.

Dea.

2 thoughts on “Mbah Maridjan: Potret Keteguhan Hati atau Sikap Keras Kepala yang Bodoh?

  1. tadinya saya juga berpikir begini, mbah marijan itu ngeyelnya setengah mati. disuruh ngungsi sama sri sultan hamengkubuwono x tapi nggak digubris. bahkan pada tahun 2006 saat merapi meletus juga, saat disuruh mengungsi oleh sultan dan tidak digubris dia malah naik ke gunung merapi untuk ngelarung dan memberikan sesajen. waktu itu masih beruntung dia nggak mati. semenjak saat itu banyak yang menganggap dia hero ataupun super hero. tapi tidak terjadi di tahun ini, mbah marijan meninggal bersama dengan beberapa korban lainnya..

    tapi setelah membaca berita disini http://regional.kompas.com/read/2010/10/28/08340068/Arti.Merapi.Bagi.Mbah.Maridjan…-4
    saya baru sadar, ya itulah hidupnya mbak marijan. dia tidak mau dianggap sebagai panutan. kalaupun dia ingin tinggal di lereng merapi sampai mati, ya itu jalan hidup beliau. beliau juga sudah menyarankan kepada warga untuk pergi mengungsi karena beliau menganggap merapi sudah tidak aman. warga sebaiknya menentukan jalan masing-masing dan tidak perlu ikut jalan beliau. tapi ternyata masih ada juga yang tinggal bersama mbah marijan yang akhirnya terpanggang abu merapi.

    untuk alasan mbah marijan tetap tinggal dan tidak mau mengungsi saya tidak tau. hanya mbah marijan dan allah yang tau. itu adalah jalan yang dipilih oleh mbah marijan. begitu pula orang-orang yang meninggal bersamanya, itu adalah pilihan mereka karena tidak mau meninggalkan mbah marijan meskipun mereka tau kondisinya sangat berbahaya.

    kita semua hanya bisa berpendapat.. perkara yang mana yang salah dan mana yang benar biar allah saja yang memutuskan..

    waduhh.. udah panjang amat komennya..

    salam..🙂

    • Ya, benar sekali itu. Kita hanya bisa berpendapat ini dan itu, pada akhirnya semua sudah terjadi dan hanya Allah dan para malaikatNya yang mengetahui alasan sebenarnya dari sikap Mbah Maridjan. Hanya saja, ya itulah, sangat disayangkan…korban jiwanya itu lho, yang seharusnya tidak ada menjadi ada… -_-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s