Beranda » Aneka Rupa » Season of the Witch: Klasik-Kolosal vs Kuno-Klise?

Season of the Witch: Klasik-Kolosal vs Kuno-Klise?

Season of the Witch merupakan film bergenre fantasi supranatural keluaran tahun 2010 dan baru ditayangkan di Indonesia pada Januari 2011. Film berdurasi 95 menit ini disutradarai oleh Dominic Sena dan naskah skenarionya ditulis oleh Bragi F. Schut. Para pelakon yang berperan dalam film ini antara lain adalah Nicholas Cage, Rob Perlman, Claire Foy, dan Christopher Lee.

Behmen dan Felson adalah para ksatria Crusader abad ke-14, veteran Perang Salib yang menjadi desertir karena trauma perang yang mendalam, mendapati diri mereka diamanati tugas untuk mengawal seorang gadis tertuduh tukang sihir ke sebuah biara agung di Severac. Keberadaan tukang sihir tersebut dipercaya sebagai sebab musabab menyebarnya wabah penyakit menular pada masa itu; sebuah wabah penyakit yang dikenal dalam sejarah sebagai Demam Hitam atau Black Plague.

Bersama mereka berdua, turut serta juga Eckhart, seorang ksatria yang tengah berduka atas kematian keluarganya; Debelzaq, seorang rahib; Hagamar, seorang penipu yang menjadi pemandu jalan mereka; dan Kay, seorang murid rahib yang bercita-cita menjadi ksatria Crusader.

Perjalanan mereka dibayang-bayangi kegelapan, ketika mereka mulai menyadari bahwa sang gadis ternyata lebih dari sekedar ‘penyihir’ biasa. Ketika akhirnya mereka mencapai Severac, barulah perang mereka melawan kegelapan pun mencapai klimaksnya…

Film ini menyuguhkan komposisi sinema yang apik dan tata suara yang mengesankan. Kita disuguhi pemandangan spektakuler khas padang rumput a la Lord of the Rings dan efek visual yang menawan. Musik dan efek suara pun cukup bagus, mendebarkan dan membuat kita mampu menikmati keseluruhan jalannya film.

Namun, kelebihan film ini hanya terletak sampai di situ. Ide, latar belakang, alur, dan jalan cerita…semuanya terkesan biasa dan klise. Tidak ada twist plot yang berarti, cerita terlalu mudah ditebak dan hampir tanpa kejutan atau kekhususan yang bermakna. Cerita mengalir datar, klimaks klise, dan ending sangat, sangat biasa. Keberadaan aktor kawakan Nicholas Cage dan Rob Perlman sebagai duo karakter utama dalam film ini pun tidak banyak mendongkrak nilai-nilai positif film.

Secara umum, film ini = biasa dan klise.

Jujur saja, saya tidak terkesan dengan film ini secara keseluruhan. Melihat trailernya, saya awalnya sangat mengharapkan sebuah film fantasi supranatural yang spektakuler yang, meski tidak sampai bisa menyamai mega fantasi Lord of the Rings dalam berbagai sisi, harapan saya, bisa menyajikan sensasi tontonan yang mendebarkan dan menarik. Tapi hasilnya…nihil.

Untuk tontonan sih, lumayan. Tetapi jika mengharapkan suatu cerita fantasi supranatural yang megah dan spektakuler, saya hanya bisa menyarankan satu judul yang pastinya sudah sangat dikenal oleh semua orang: trilogi Lord of the Rings. Sejauh ini, belum ada kisah fantasi supranatural yang mampu melebihi atau minimal menyamai kemegahan trilogi yang satu itu.

Penilaian pribadi saya untuk film ini:

Gambar: 8.5

Karakterisasi: 7.5

Alur cerita: 6.5

Efek suara: 7.5

Keseluruhan: 7.5

Enjoy. Salam, Dea.

Dari berbagai sumber.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s