Beranda » DUNIA ARADIA : “Charmed”-Inspired Chick Lit You’ll Like

DUNIA ARADIA : “Charmed”-Inspired Chick Lit You’ll Like

10534397_669142509831439_4701619117290990620_n

Judul      : Dunia Aradia

Author   : Primadonna Angela
Cetakan  : Pertama, Mei 2014
Penerbit : Grasindo
Dimensi : 13 x 19 cm
Tebal      : vi + 242 halaman
ISBN      : 978-602-251-519-7
Harga     : Rp 45.000,-

DUNIA ARADIA adalah novel ke-15 buah karya Primadonna Angela, yang terkenal oleh karya-karyanya semacam Belanglicious dan Love at First Fall. Novel ini pernah diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2009. Dan kali ini diterbitkan ulang oleh Grasindo dengan desain cover baru.
Adalah Aradia Morgana, seorang wanita muda berusia pertengahan dua puluh yang berprofesi sebagai penerjemah yang bekerja dari rumah…dan juga adalah sang Ratu Penyihir yang disegani oleh semua penyihir di dunia.
Di tengah hiruk pikuk kesibukannya di rumah, mulai dari mengurus keponakan semata wayangnya bernama Jasper dan berkelit dari perjodohan yang direncanakan oleh ibunya yang seorang artis, Tatia, Aradia juga masih harus disibukkan oleh segala tetek bengek di dunianya yang satu lagi : dunia sihir. Di mana seorang penyihir bisa saja mempermudah hidupnya dengan sihir, Aradia, selayaknya seorang ratu yang baik, terikat oleh peraturan dunia sihir dan berkutat dengan hidupnya sendiri di dunia manusia.
Namun ketika keseimbangan antara dunia sihir dan dunia manusia terganggu, Aradia, selayaknya sang Ratu Penyihir, harus bisa membuat pilihan sulit dan mengorbankan apa yang paling berharga baginya : jiwanya.
Primadonna Angela mengemas kisah fantasi ini dengan alur cerita dan gaya bahasa yang bagus dan menarik. Terlihat sekali bahwa Mbak Donna sangat terpengaruh serial televisi “Charmed” ketika membuat novel ini; hal ini bisa dilihat jelas dari penjelasan mengenai penyihir (witch), malaikat pelindung penyihir, dan musuh para penyihir (shadowlord / warlock) yang dijabarkan. Latar belakang cerita juga sangat “Charmed” : dengan tema Wiccan atau penyihir pagan, ritual-ritual paganisme, sampai dengan the Rule of Three.
Saya menyukai novel ini karena tema dan gaya penceritaannya yang segar. Meskipun begitu, saya jujur saja tidak terlalu menyukai tema cerita yang sangat “Charmed”, alur cerita yang cenderung melompat-lompat, dan karakterisasi Aradia yang tidak konsisten.
Kenapa tema yang sangat “Charmed” ini selalu saya singgung?
Pertama, saya menyukai serial “Charmed”, serius. Bukan serial itu yang bermasalah, tapi lebih ke arah gaya Mbak Donna yang seolah-olah 100% copy paste tema cerita menjadi kisahnya.
Sekali lagi tidak ada yang salah dari itu. Membuat sebuah cerita karena terinspirasi serial kesayangan atau tokoh favorit itu sah-sah saja. Tapi, menurut saya, ada satu hal yang disebut orisinalitas. Di novel ini, orisinalitas yang diusung oleh Mbak Donna hanyalah sekelumit fakta bahwa Aradia adalah perempuan Indonesia dan tinggal di Bandung. Hanya itu saja, dan yang lainnya…jreeeng! copas dari “Charmed”.
Kedua, sekali lagi karena berhubungan dengan “Charmed”, latar belakang cerita Aradia menjadi kurang membumi (meski sudah ditempeli keterangan Bandung dan Indonesia). Maksud saya begini : oke, Aradia tinggal di Bandung dan dia seorang perempuan Indonesia. Asumsi pertama saya adalah bahwa Aradia seharusnya memiliki karakteristik wanita Indonesia, yang tentunya jauh berbeda dengan karakteristik perempuan asing. Tetapi begitu saya membaca Aradia sampai selesai, saya hanya mengerutkan kening dan bertanya-tanya : di mana ke-Indonesia-an Aradia? Dunno.
Ketiga, “Charmed” merupakan serial mengenai penyihir dengan dasar kepercayaan Wiccan atau paganisme. Kepercayaan ini berkembang pesat di dunia Barat, bahkan sampai sekarang. Oke lah, katakanlah Aradia seorang penyihir. Apakah dia harus menjadi sepenuhnya penyihir Wiccan? Apakah kenyataan bahwa dia tinggal di Indonesia sama sekali tidak memberikan pengaruh terhadap sihir dan status penyihirnya? Memang di novel ini tidak dikatakan bahwa dia asli keturunan pribumi atau bukan, tetapi tetap saja…rasanya terlalu, hm, gimana ya, asing? Sekali lagi, terlalu terpengaruh “Charmed”.
Satu hal lagi yang perlu saya soroti adalah alur cerita yang melompat-lompat. Di awal novel, Mbak Donna sudah dengan apik menata dunia Aradia dan pernik-pernik kesehariannya, baik di dunia sihir maupun di dunia manusia. Tetapi plot yang sudah tertata rapi itu menjadi berantakan di tengah cerita dengan lompatan-lompatan aksi yang terkadang diceritakan tanpa bahasa yang runtut dan jelas.
Kecenderungan sang novelis untuk memasukkan segala sesuatu bertema sihir ke dalam cerita juga menjadi salah satu kelemahan yang perlu disorot. Seolah-olah kalap, di novel ini dijejalkan berbagai hal magis, mulai dari naga sampai malaikat pelindung (yang terlalu “Charmed”, lagi-lagi). Tidak ada penjelasan yang wajar dan mengalir, sehingga kesannya agak dipaksakan.
Sekali lagi tidak ada yang salah dengan itu. Hanya saja, saya hanya bisa menangkap euforia meledak-ledak untuk menceritakan segala sesuatu bertema sihir dan “Charmed” ke dalam sebuah novel pendek—dan hal itu menghancurkan kestabilan dan keindahan cerita yang sudah terbangun di bagian awal. Sayang sekali.
Menurut hemat saya, Aradia memerlukan lebih dari sekedar satu novel tipis untuk bisa menjadi sebuah jalinan kisah yang menarik dan menyentuh. Tidak harus sebanyak dan serumit Harry Potter, tetapi jumlah yang cukup untuk bisa menjangkau seluruh keajaiban dan keindahan dunia Aradia.
Terakhir yang perlu saya sorot adalah inkonsistensi karakter Aradia. Di bagian pertama novel ini, saya menangkap Aradia adalah perempuan yang kuat di luar, tetapi penuh konflik di dalam. Karakter seperti ini membutuhkan penghayatan dan penjabaran yang lebih mendalam, dengan sentuhan-sentuhan sifat manusiawi yang sudah sewajarnya ada. Tetapi setelah saya membaca sampai selesai, saya hanya bisa menyimpulkan bahwa Aradia adalah tipikal tokoh wanita protagonis dalam sinetron yang berkarakter seperti martir dan drama queen. Karakter Aradia yang awalnya misterius, kuat, namun rapuh itu dihancurkan oleh stereotip tokoh protagonis sinetron ini.
Akhir kata, saya, terlepas dari banyak komentar dan kritik yang saya tuliskan di atas, menyukai kisah ini. Tema sihir dan dunia fantasi selalu menarik minat saya, simpelnya karena tema tersebut benar-benar ajaib, indah dan kreatif. Dunia Aradia merupakan novel yang menarik dari segi tema cerita, bagus untuk koleksi bacaan fantasimu.
Selamat membaca.
Dea.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s