Beranda » Nightmare Inspector (Yumekui Kenbun)

Nightmare Inspector (Yumekui Kenbun)

Kover manga volume 4, yang seperti biasa menampilkan Hiruko, sang Baku.

Yumekui Kenbun atau diterjemahkan sebagai Nightmare Inspector merupakan manga karya Shin Mashiba. Manga berlatar belakang Jepang pada tahun 1900-an ini bergenre shonen, dengan alur cerita bertemakan fantasi, misteri, horor, dan tragedi menjadi satu komposisi yang apik dan menarik. Manga ini pertama kali diterbitkan tahun 2002 dan tamat pada tankoubon volume 9.

Kedai teh Ginseikan atau Silver Star Tea Shop merupakan kedai teh yang suram dan jarang dikunjungi pelanggan, namun dirumorkan sebagai tempat yang tepat untuk memecahkan masalah sekaitan dengan mimpi buruk.

Ya, di dalam keremangan kedai teh itu, berdiamlah Hiruko, sang Baku yang mampu memecahkan segala permasalahan mengenai mimpi buruk. Baku adalah makhluk spiritual yang aslinya berwujud siluman tapir yang gemar memakan mimpi buruk. Meski begitu, Baku yang satu ini memiliki wujud seorang anak laki-laki berparas rupawan dengan selera pakaian yang unik dan karakter yang dingin, tanpa ekspresi.

Hiruko dan Mizuki.

Bersama Hiruko, di dalam kedai teh tersebut berdiam juga sang pemilik asli kedai, seorang gadis manis bernama Mizuki Asahina. Penghuni kedai yang ketiga adalah seorang pemuda kaya yang ramai, kocak, dan jatuh cinta berat pada Mizuki, bernama Hifumi Misumi. Hifumi menyewa satu dari empat kamar di lantai dua kedai tersebut. Dua dari kamar yang lain dihuni oleh Hiruko dan Mizuki, sementara kamar keempat dibiarkan kosong dan terkunci. Kamar itu merupakan kamar kakak laki-laki Mizuki, Azusa Asahina, yang dikabarkan hilang sejak awal cerita.

Setiap cerita ditampilkan dalam kisah-kisah pendek per kapter yang terpisah satu sama lain, tetapi tetap mengikuti alur waktu yang teratur. Setiap kisah menceritakan (baca: diawali) tamu yang berkunjung ke kedai untuk “bertemu Hiruko, sang Baku”. Setiap tamu akan menceritakan masalah mereka yang berkaitan dengan mimpi buruk dan umumnya Hiruko akan membantu mereka dengan memasuki mimpi dan memecahkan masalah mereka di dalam mimpi. Mimpi-mimpi buruk para tamu ini beragam macam wujudnya; semakin kelam dan seram mimpinya, semakin nikmat rasanya bagi Hiruko. Mimpi buruk yang paling nikmat bagi sang Baku merupakan mimpi buruk yang melibatkan darah dan kegelapan di dalamnya.

Setiap kali selesai memecahkan suatu masalah mimpi buruk, kenangan mimpi tersebut akan diserap masuk ke dalam bola kristal kecil pada tongkat jalan Hiruko, Formalin, yang akhirnya akan memadat menjadi kristal mimpi buruk dan dimakan oleh Hiruko.

Tidak semua tamu yang datang ke kedai itu untuk membicarakan masalah mimpi buruk mereka merupakan manusia hidup. Beberapa di antara mereka bisa jadi hantu atau malah bukan manusia sama sekali. Khusus untuk tamu hantu, Mizuki dan Hifumi biasanya tidak bisa melihat sosok mereka. Selain itu, mimpi buruk mereka tidak terserap Formalin dan menjadi kristal, karena umumnya mereka tidak menyadari bahwa mereka sudah mati dan salah mengira bahwa tekanan masalah pasca kematian mereka merupakan mimpi buruk. Dalam kasus-kasus seperti ini, Hiruko hanya bisa pasrah karena tidak bisa makan kristal mimpi buruk sama sekali (soalnya Formalin kosong melompong ^^).

Sebelum Hiruko yang sekarang (Hiruko merupakan nama universal sebagai Baku), Baku di Ginseikan yang terdahulu adalah Azusa. Azusa yang depresif dikarenakan asal usulnya sebagai anak haram, merasa putus asa pada hidupnya–meski Mizuki sebagai adik perempuan yang sangat menyayanginya, selalu berada di sisinya dan menyokongnya. Setiap malam, Azusa selalu dihantui mimpi buruk mengenai dirinya yang lenyap perlahan-lahan. Suatu malam, ketika ia tengah didera mimpi buruk yang sama, Azusa didatangi Hiruko sang Baku (yang asli, dengan sosok pertamanya sebagai siluman tapir). Hiruko yang mencari ‘kematian’ dirinya, berkata pada Azusa bahwa Baku tidak hidup dan juga tidak mati, dan karenanya ia tidak bisa dihancurkan dan akan selalu ada sampai akhir dunia. Bosan dengan eksistensinya, Hiruko memberikan suatu penawaran menarik bagi Azusa; yaitu untuk melebur diri mereka menjadi satu dan mengubah Azusa menjadi Baku. Dengan begitu, Hiruko yang dulu akan ‘mati’ dan Azusa yang sekarang akan ‘lenyap’ dan berubah menjadi satu entiti, yaitu Azusa/Hiruko sang Baku.

Azusa setuju, dan sejak saat itulah ia menjelma menjadi Baku yang baru.

Sebagai Baku, Azusa tidak bisa mengonsumsi makanan lain selain mimpi buruk (ia akan muntah darah bila memakan makanan manusia); dan tubuhnya dingin jika disentuh–seperti mayat. Kepribadiannya pun berubah, meski ia masih bersikap baik dan lembut terhadap adik perempuannya, Mizuki; ia juga mulai dikuasai kegilaan. Azusa mulai ditelan obsesinya untuk memperoleh mimpi buruk yang terseram. Untuk bisa mencapai tujuannya itu, ia tidak segan-segan memanipulasi mimpi buruk kliennya sehingga mimpi buruk mereka menjadi semakin seram dan tidak tertahankan.

Sampai akhirnya ia tiba-tiba lenyap dari kedai. Mizuki yang kebingungan mencari kakak laki-lakinya kemudian dikunjungi oleh Baku yang baru, Hiruko yang sekarang. Nantinya diketahui bahwa Hiruko yang sekarang bernama asli Chitose Kurosu, seorang anak yatim piatu yang dipelihara sebagai budak oleh suatu keluarga yang hanya memanfaatkannya sebagai mainan hidup. Ia disiksa, dianiaya, dan disakiti sampai setengah mati tanpa diberi kesempatan untuk melawan atau bahkan bergerak. Kedua tangan dan kakinya diikat pada tiang, dan ia dikurung di gudang. Chitose hanya bisa menjerit-jerit kesakitan dan berkhayal. Khayalannya berkisar seputar kehidupan idealnya, tanpa rasa sakit, tanpa siksaan dan aniaya, tanpa kelaparan, tanpa ikatan dan beban…khayalan yang semakin lama semakin berkembang menyimpang dan menjadi mimpi buruk yang dalam dan kelam.

Mimpi buruk Chitose sangatlah seram, kelam, dan dalam sampai-sampai Azusa, yang datang untuk memakan mimpi buruk tersebut, justru tertelan olehnya. Dengan lenyapnya Azusa, Chitose pun mewarisi Baku dari Azusa dan menjadi Baku yang baru…

Selain Ginseikan, tempat lain yang sering disebut dalam kisah ini adalah Moukyoudou atau The Delirium. Tempat ini merupakan tempat untuk menjual ilusi atau fantasi, terdiri atas kamar-kamar dengan kadar fantasi yang berbeda-beda. Pemiliknya bernama Kairi, seorang pria perlente yang gemar berfantasi di mana pun dan kapan pun (fantasinya sangat tidak masuk akal dan berlebihan, membuat orang lain yang melihat tingkahnya selalu menganggap Kairi sebagai orang gila, haha ^^); dan dalam pengelolaan tempat itu, ia dibantu oleh seorang remaja laki-laki yang ceria dan ramah bernama Shima. Dinyatakan bahwa sekali memasuki The Delirium, seseorang tidak akan bisa keluar selamanya, kecuali bila ia menyadari bahwa ia berfantasi–yang amat sangat jarang terjadi, kecuali atas intervensi pihak luar, misalnya Hiruko.

Hubungan Kairi dan Hiruko cukup baik (dalam bentuk hubungan kerja profesional). Kairi merupakan orang yang memberikan koper pada Hiruko dan memperbaiki tongkat Formalinnya. Koper itu digunakan oleh Hiruko untuk menyimpan mimpi buruknya yang terkelam (mimpi buruknya sebagai Chitose) dan juga entiti Azusa, yang terperangkap dalam mimpi buruk yang sama. Setiap orang yang memegang koper itu selalu merasakan sensasi yang menyeramkan, seolah-olah ada kegelapan yang menekan mereka dari dalam koper. Selain Hiruko, mereka yang tidak terpengaruh oleh aura koper itu adalah Kairi dan Naamu, kucing hitam milik Hifumi.

Dalam kisah ini juga diceritakan mengenai rival Hiruko, yaitu Baku bernama Tsukishiro, yang–mirip Azusa–gemar memanipulasi mimpi buruk untuk kesenangannya sendiri tanpa mempedulikan nasib para kliennya. Meski begitu Tsukishiro mengakui bahwa kekelaman jalan pikiran Azusa sebagai Baku bahkan melampaui dirinya. Tsukishiro awalnya menawarkan untuk bekerja sama dengan Hiruko dalam menciptakan mimpi buruk paling dahsyat–sesuatu yang akhirnya ditolak mentah-mentah oleh Hiruko.

Manga ini benar-benar patut diacungi jempol. Jalinan cerita yang unik, kompleks, dan menarik dengan gaya gambar yang rapi, apik, dan mendetail menjadi nilai tambah utama pada kisah ini. Karakterisasi setiap tokohnya, mulai dari Hiruko sampai setiap tamu yang datang juga digambarkan dengan baik dan stabil. Yang paling saya acungi jempol adalah kemampuan Mashiba-sensei untuk menjalin untaian cerita yang beralur kompleks, memiliki plot twist yang tidak terduga, dan ending yang mengesankan (biasanya tragis) tanpa harus mengumbar banyak aksi dan gambar yang tidak perlu. Keseluruhan kisah Yumekui Kenbun ini sangat luar biasa indah dan mendetail; unik dan orisinil dalam setiap ide-ide mimpi buruknya.

Salah satu karakter paling kompleks dalam kisah ini adalah Azusa (dan Hiruko/Chitose sebelum menjadi Baku). Saya sangat menyukai karakter dan jalan pikirann Azusa dan Chitose yang rumit, mendetail, dan kelam, serta kecenderungan psikotisnya yang mengerikan. Saya benar-benar menyarankan bahwa manga ini hanya dibaca mereka yang berusia 15 ke atas, karena banyak kisahnya yang cenderung sulit dimengerti dan tema yang ‘mengganggu’.

Penilaian pribadi saya mengenai manga ini:

Gaya gambar: 8.5/10

Alur/jalan cerita: 9.5/10

Ide orisinil: 9.5/10

Karakterisasi: 9/10

Kerapian panel: 8.5/10

Keseluruhan: 9/10

Selamat menikmati membaca manga misteri/horor/supernatural ini. Scanlation manga ini baru keluar sampai tankubon volume 8, dengan total 56 kapter dan beberapa kapter tambahan. Untuk link lebih lanjut, klik saja di sini.

Dari berbagai sumber.

Salam, Dea.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s