Beranda » Petak Umpet Minako: Kisah Hitori Kakurenbo Rasa Indonesia

Petak Umpet Minako: Kisah Hitori Kakurenbo Rasa Indonesia

cover-petak-umpet-minako

Judul: Petak Umpet Minako

Pengarang: @manhalfgod

Penerbit: Penerbit Rak Buku, Jakarta

Cetakan Pertama: Januari 2015

Halaman: 400 halaman

Ukuran: 13 x 19 cm

Cover: soft

Apakah Hitori Kakurenbo itu?

Hitori Kakurenbo adalah sebuah permainan tradisional Jepang yang awam disebut sebagai One Man Hide-and-Seek atau Petak Umpet Tunggal. Hal yang membuatnya berbeda dari petak umpet biasa adalah efeknya yang mengerikan… dan fakta bahwa teman bermain kita adalah makhluk halus.

Saya tidak akan menjelaskan cara bermain dan efek yang ditimbulkan dari permainan ini; kalian bisa mencarinya di Google dan menonton contoh videonya di Youtube (saya menyambungkan link informasi di bagian bawah tulisan ini). Meskipun menarik dan menantang untuk dicoba, saya tidak menyarankannya, karena permainan ini jauh lebih berbahaya dibandingkan jaelangkung sekalipun.

Novel ini menceritakan mengenai permainan Hitori Kakurenbo yang dimainkan sekelompok anak muda ketika mereka melakukan reuni angkatan di bekas SMA lama mereka yang telah ditutup. Adalah Baron, sang tokoh utama, yang tidak bisa menghadiri reuni tersebut karena lembur pekerjaannya di kantor. Ia menerima SMS dari pacarnya, Gaby, mengenai rencana bermain petak umpet tunggal di gedung sekolah lama mereka. SMS Gaby yang menyiratkan ketakutan membuat Baron cemas, dan akhirnya ia pun memutuskan untuk menyusul pacarnya ke sana. Apa yang ditemui Baron di tempat itu sangatlah mengerikan dan membawa pengaruh besar ke dalam kehidupannya dan Gaby.

Novel ini disusun dalam bahasa yang mudah dimengerti dan mengalir lancar. Tidak seperti kebanyakan novel horor Indonesia yang banyak menekankan pada pengetikan bunyi-bunyian untuk menambah efek seram (hal yang idiot dan mengganggu menurut saya), Petak Umpet Minako ditulis dengan wajar dan tanpa banyak efek bunyi yang mengganggu–tanpa mengurangi nuansa seram yang ditimbulkannya.

Salah satu kelemahan novel  ini adalah tiadanya jeda antara satu adegan aksi ke adegan lain. Bahkan dalam novel aksi sekalipun, seharusnya ada adegan reprieve atau jeda untuk beristirahat sejenak dari ketegangan adegan-adegan aksi sebelumnya. Petak Umpet Minako sepertinya dibuat untuk selalu tegang dan penuh aksi (terkadang aksi yang terkesan diulang-ulang dan berlebihan), sehingga pembaca merasa seru dan tergoda untuk terus mengikuti ceritanya sampai kelar. Jujur saja, saya juga termasuk korbannya; saya tidak berhenti membaca novel tersebut mulai dari naik kereta untuk pergi kerja, dan selesai ketika naik kereta pulang ke rumah, dengan jeda ketika sibuk bekerja di kantor. Sang pengarang berhasil mengikat pembaca dengan alur yang tegang dan runtut, tetapi gagal dalam membuat variasi alur antara ketegangan dan jeda yang pastinya dibutuhkan dalam novel semacam ini.

Kelemahan lain novel ini adalah kelemahan khas Indonesia, yaitu kesekonyong-konyongan (entah ini kata baku atau tidak…). Penulis Indonesia senang menuliskan adegan-adegan yang seru dan bombastis hampir tanpa intro yang logis terlebih dahulu. Tidak ada penjelasan, tidak ada pengakraban karakter (ice-breaking, bila dalam pergaulan sehari-hari), tidak ada latar belakang yang jelas, tiba-tiba saja, BAM, aksi-aksi-dan-aksi. Oke, latar belakang dan motif para pelaku dalam novel ini dijelaskan satu per satu di dalam novel, tetapi saya merasa hal itu tidak cukup. Kurang greget gitu.

Satu lagi kelemahan universal khas novel Indonesia: minimnya eksplorasi karakter. Dalam Petak Umpet Minako, mari kita ambil contoh karakter Baron sebagai tokoh utama. Seperti halnya sinetron Indonesia, karakter Baron tidak memiliki sifat yang jelas, wataknya berubah-ubah sesuai suasana hati dan kondisi sekitar, sama sekali tidak ada ciri khas yang menjadikannya sebagai karakter yang tidak tergantikan. Karakter Baron terlalu, apa ya sebutannya, stereotip protagonis sinetron Indonesia: orang biasa yang tiba-tiba saja menjadi tokoh heroik, selfless, dan segudang sifat baik lainnya. Dia menjadi semacam Gary Stu bagi saya; suatu hal yang merugikan bagi sebuah cerita, karena bisa dipastikan hampir semua orang bosan dengan karakter semacam Gary Stu dan Mary Sue. Penjelasan karakter Gary Stu atau Mary Sue ada di sini.

Terlepas dari semua kelemahan yang saya sebutkan di atas, Petak Umpet Minako adalah novel yang mengasyikkan untuk dibaca (bagi penggemar horor seperti saya). Satu hal yang patut digarisbawahi adalah pengenalan permainan Hitori Kakurenbo di bagian awal novel ini. Versi permainan ini berbeda-beda tergantung dari mana sumbernya, tetapi hal yang saya  tahu, sesuai dengan namanya, Hitori Kakurenbo lebih umum dimainkan sendirian, dengan teman main kita berupa roh atau makhluk halus yang memang sengaja dipanggil dalam permainan ini. Saya belum pernah mendengar permainan ini dimainkan secara massal, seperti yang dicontohkan oleh novel Petak Umpet Minako. Ada beberapa peraturan permainan yang diubah di dalam novel, sepertinya untuk mendukung kelancaran alur cerita dan bukan aturan baku yang sebenarnya dari permainan Hitori Kakurenbo ini.

Untuk penjelasan mengenai Hitori Kakurenbo, dapat dibaca di blog sebelah di WordPress, yaitu di blog The Ghost in My Machine, halaman One Man Hide-and-Seek.

Selamat membaca.

P.S. Jangan sekali-kali mencoba permainan ini. Terlalu banyak hal yang tidak bisa diprediksi dalam permainan semacam ini. Saya termasuk orang yang skeptis terhadap hal-hal yang berbau supranatural, tetapi skeptis berbeda dengan nekat kan? Jangan jadi orang yang nekat.

Salam.

Dea.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s