Beranda » Sekilas mengenai Ekshibisionisme

Sekilas mengenai Ekshibisionisme

Hari Selasa kemarin, aku ke lab SBRC seperti biasa. Sorenya aku pulang bareng temanku yang rumahnya di Jakarta. Kami menunggu bis Pusaka di halte depan RS PMI.

Sambil menunggu, kami mengobrol dan memandang sekeliling kami. Tiba-tiba mataku menangkap sosok seorang pria, duduk di atas motornya yang diparkir tidak jauh dari kami. Ia masih mengenakan helmnya dan yang membuatku kaget, ternyata ia mengeluarkan, maaf, anunya dan dimain-mainkan. Ia melakukannya sambil terus memandangi kami dengan tatapan bernafsu (??!! jijik banget deh!!😦 ). Aku langsung saja membisiki temanku dan ternyata ia bilang bahwa ia sudah lihat lebih dahulu dariku dan karena ia jijik, ia diam saja. Setelah beberapa lama mempertontonkan ‘barang’nya itu, ia pun ngeloyor pergi naik motornya.

Hal itu merupakan salah satu kelainan seksual yang disebut dengan ekshibisionime. Perilaku seks menyimpang ini dapat diartikan bahwa mereka yang mempraktekkannya mendapatkan kepuasan seksual dengan mempertontonkan kemaluannya, biasanya pada lawan jenis,  dan menikmati ekspresi korbannya. Mereka akan sangat puas bila bisa menakut-nakuti korbannya dengan ‘pertunjukan’ itu.

Beberapa trik supaya mereka kapok adalah :

1. tidak takut dan menjerit bila dipertontoni barang begituan; jadilah berani dan ejeklah dia😀 itu membuat mentalnya down banget lho!

2. pelototi dia, dan kalau perlu marahi saja.

3. bawa teman, atau lebih aman lagi, pergilah beramai-ramai. Mereka biasanya mengincar cewe yang sendirian.

Intinya, kita harus berani. Pada umumnya, penderita kelainan seksual ini tidak seberani pemerkosa. Mereka biasanya sudah keder duluan jika korbannya berani melawan atau terlihat tidak terpengaruh dengan aksinya.

Untuk info lebih lanjut, buka aja halaman Wikipedia ini.

Salam, Dea.

3 thoughts on “Sekilas mengenai Ekshibisionisme

  1. maaf mba..kalo ekshibisionism lebih tepatnya konsultasi/pengobatan kemana?psikiater,psikolog,atau dokter umum bisa gak?

    • maaf ya, saya baru bisa balas. kalo itu saya juga kurang tahu, tapi menurut saya, karena ekshibisionisme itu masih merupakan masalah kejiwaan yg bisa ditangani dengan konsultasi psikologis, mungkin sebaiknya merujuk pada psikolog saja. psikiater lebih menitikberatkan pengobatan menggunakan obat-obatan medis (seperti di rumah sakit jiwa) sehingga kurang sesuai. selama masih bisa dibicarakan secara hati ke hati dengan konselor profesional/psikolog, jasa psikiater/dokter jiwa belum/tidak dibutuhkan🙂

  2. Untuk respon untuk tetap tenang merupakan tindakan yang tepat. karena reaksi terkejut atau takut yang berlebihan akan cenderung mendorong orang tersebut semakin mempertontonkan dirinya. aka n tetapi, sebaiknya ekshibisionisme tidak kita “ejek”. Selain karena merupakan hal yang tidak bijaksana jika kita menghina, hal tersebut juga dapat membangkitkan reaksi kekerasan dari subyek pelaku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s