Beranda » Sekilas Obsessive-Compulsive Disorder » Obsessive-Compulsive Personality Disorder (OCPD): Perfeksionisme Abnormal yang Mendarah Daging

Obsessive-Compulsive Personality Disorder (OCPD): Perfeksionisme Abnormal yang Mendarah Daging

Setelah sebelumnya kita membahas mengenai OCD atau obsessive-compulsive disorder, mari kita membahas mengenai OCPD atau obsessive-compulsive personality disorder. Apa bedanya?

Saya akui saya juga awalnya melakukan kesalahan dengan manyamakan dua gangguan jiwa ini. Saya mengira dua gangguan ini sama, terutama dalam hal gejala dan habitnya. Ternyata berbeda, kawan-kawan! Maaf, saya juga awam sih…😛

OCPD merupakan gangguan jiwa yang oleh penderitanya tidak dianggap sebagai gangguan atau abnormalitas, karena hal tersebut sudah dianggap menjadi bagian dari kepribadiannya (catat: personality). Hal utama yang membedakannya dari OCD adalah dari tampilan gejalanya.

OCD merupakan gejala anxiety atau kecemasan, yang diwujudkan dalam bentuk tindakan repetitif yang menjadi sebuah ritual khusus untuk menghilangkan/mengurangi kecemasan yang dialami si penderita dalam kurun waktu tertentu. Ritual yang paling umum dilakukan biasanya mencakup mencuci tangan, mengunci pintu, mengecek gerendel pintu, menghitung ubin, dsb secara repetitif, dalam kurun waktu dan urutan tertentu, dan wajib fardhu ain kudu musti dilakukan untuk menghilangkan atau mengurangi rasa cemas yang dialami, meski umumnya, pada akhirnya rasa cemas itu bukannya hilang, tetapi malah semakin menjadi. Penderita biasanya mengetahui bahwa apa yang dilakukannya merupakan sebuah abnormalitas dan sangat sadar bahwa ia membutuhkan bantuan kejiwaan untuk mengobatinya.

OCPD merupakan gangguan personaliti, dimana si penderita memiliki kepribadian perfeksionis yang amat sangat kuat, yang diterapkannya dalam segala aspek hidupnya dan hidup orang lain (sampai pada tahap mengganggu orang lain ybs) dan si penderita tidak menganggap bahwa perilaku tersebut merupakan suatu hal yang salah. Ia menganggap bahwa perilakunya tersebut normal-normal saja dan tidak merasa membutuhkan bantuan kejiwaan. Ia biasanya menganggap bahwa perilaku itu adalah bagian dari kepribadiannya, bagian dari siapa dirinya. Penderita OCPD tidak memiliki keharusan untuk melakukan ritual tertentu; ia juga tidak memiliki gejala kecemasan khusus.

Perfeksionisme yang dimiliki oleh penderita OCPD sangat menganggu kehidupannya sehari-hari, meski ia sendiri tidak menyadarinya. Perilaku perfeksionis tersebut menganggu si penderita dalam menyelesaikan tugas-tugasnya, mengganggu dalam hubungan interpersonal baik dengan keluarga ataupun rekan-rekannya, dan seterusnya mengganggu dalam segala aspek kehidupan penderita, yang tidak menyadarinya sama sekali dan terus menganggap bahwa perilakunya tersebut normal.

Meyakinkan penderita OCPD untuk mendapatkan bantuan kejiwaan adalah hal yang sangat sulit. Berbeda dari penderita OCD yang menyadari bahwa dirinya sakit, penderita OCPD sama sekali tidak merasa dirinya sakit atau mengalami kelainan. Ia justru menganggap bahwa orang lainlah yang aneh, karena tidak memenuhi standarnya dalam hal perfeksionisme dan lain sebagainya. Ia bisa bereaksi negatif bila ada yang menyinggung bahwa perilakunya itu mengganggu orang lain atau bahwa hal itu tidak bagus dilakukan.

Ada banyak situs yang membahas mengenai OCPD, di antaranya:

  1. Psychcentral.com
  2. Nlm.nih.gov – situs perpustakaan medis nasional USA
  3. www.mentalhealth.com
  4. ada juga definisi umum dari wikipedia.org
  5. ada juga paper dari iocdf.org

Sekian saja pencerahan dari saya (termasuk untuk diri saya sendiri :)).

Trims.

Dea.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s