Beranda » The KEEP

The KEEP

Judul buku      :           The KEEP

Pengarang       :           Jennifer Egan

Penerbit           :           Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit   :           2009

Cover                :           soft cover

Halaman          :           320 halaman

ISBN                  :           ISBN-13:978-979-22-5090-9

Novel yang baru-baru ini kubaca adalah The Keep karangan penulis Amerika bernama Jennifer Egan. Penerbitnya Gramedia Pustaka Utama; harga Rp 37000,- (bisa naik sewaktu-waktu); cover depan menampilkan gambar sebuah benteng atau kastil Eropa kuno dengan warna dominan krem dan cokelat kusam. Secara keseluruhan, novel ini menampilkan kesan cerita yang suram, gelap, dan surealis.

Dan memang ternyata isinya seperti itu. Sejujurnya aku agak menyesal membelinya, mengingat aku bukan penggemar novel sastra (maksudnya novel sastra murni, non-populer, yang ternyata buku ini termasuk salah satunya); tetapi aku mencoba membacanya. Dalam membacanya, aku sering menunda-nundanya, jadi memakan waktu lama; biasanya aku menghabiskan novel dalam waktu 2-3 jam; yang ini makan waktu sampai beberapa minggu.

Hal yang paling membuatku bingung adalah bahasanya. Novel ini menggunakan tiga sudut pandang yang biasanya berubah-ubah tiap bab. Sudut pandang pertama adalah sudut pandang orang ketiga tunggal yaitu Danny; yang mengisahkan perjalanannya mencapai kastil kuno yang baru saja dibeli sepupunya, Howard. Selama tinggal di dalam kastil tersebut, kita disuguhi rentetan deskripsi mengenai segala apa yang terjadi dengan Danny, mulai dari ketika ia tersesat di kastil sampai ia berjumpa dengan baroness sang pemilik kastil; yang, bisa jadi, hantu kastil tersebut; atau setidaknya berpose seperti hantu. Bab-bab mengenai Danny juga menceritakan mengenai pergolakan emosi di dalam hati Danny, interaksinya dengan orang-orang di sekitarnya, ketakutannya terhadap hal-hal yang terjadi di sekitarnya, dan sebagainya.

Pada beberapa sisi, kita juga menemukan sudut pandang kedua di dalam bab-bab Danny, yaitu sudut pandang orang pertama tunggal, Ray, sang narator utama. Ialah yang menceritakan kisah Danny, seolah-olah ia mengalaminya langsung. Ray adalah seorang narapidana kasus pembunuhan yang mengikuti kelas menulis di penjaranya. Ketika ia diminta menuliskan cerita yang berkesan baginya, ia menceritakan kisah Danny. Mentornya, Holly, dan rekan-rekan sepenjaranya yang mengikuti kelas yang sama, tidak percaya bahwa ceritanya itu adalah nyata. Ray, dalam monolognya (kepada kita) mengakui bahwa ia dapat menuliskan cerita itu secara detail karena ia dibisiki oleh Danny setiap malam.

Sudut pandang ketiga hanya ada di beberapa bab terakhir novel, yaitu sudut pandang orang pertama tunggal, Holly; yang menceritakan kisahnya setelah ia menerima kiriman pos berisi cerita milik Ray dan kabar bahwa napi favoritnya itu kabur dari penjara belum lama berselang. Ia mengubur surat-cerita itu di halaman rumahnya dan memutuskan untuk mengunjungi kastil yang diceritakan dalam kisah Ray, sebuah hotel tematik dan anti-elektronik bernama “The Keep”.

Kisah ini berhenti sampai di situ, dengan akhir menggantung. Kita tidak tahu di mana keberadaan Ray, nasib Holly selanjutnya, dan mengapa The Keep bisa berdiri setelah begitu banyak tragedi yang terjadi di dalamnya (termasuk hantu-hantu di dalamnya).

Sebelum bab Holly, semua kalimat percakapan sama sekali tidak menggunakan tanda kutip. Pintar-pintarnya kita untuk menentukan mana kalimat yang diucapkan, mana yang dipikirkan, dan mana yang dikisahkan oleh narator (Ray). Jalan ceritanya, menurutku, tidak runtun, meski bukan berarti tidak masuk akal. Kisahnya secara umum bertemakan surealis dan mengangkat unsur psikologis manusia (emosi Danny dan kegalauan Ray).

Aku tidak menyarankan novel ini bagi yang menyukai kisah-kisah seram atau thriller dengan alur yang dinamis; sebab kisah ini sangat lamban, dan alih-alih dibilang thriller atau horror, lebih cocok dibilang drama. Novel ini adalah drama kehidupan Danny, Ray dan, Holly; semuanya berputar di satu tempat yang sama: kastil kuno yang diubah menjadi hotel bernama “The Keep”.

Salam, Dea.

One thought on “The KEEP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s