Beranda » Zombie Aedes: “The Walking Dead” Karya Anak Bangsa

Zombie Aedes: “The Walking Dead” Karya Anak Bangsa

24570017

Judul: Zombie Aedes

Pengarang: Satria Satire

Penerbit: PT Elex Media Komputindo

Tahun Terbit: 2015

ISBN: 9786020256870

Halaman: 380 halaman

Cover: soft


Siapa yang tidak mengenal Resident Evil?

Film dan game bertema zombie ini, selain Silent Hill yang bertema serupa, sangat terkenal di pasaran sebagai pelopor fantasi distopia bertema zombie. Selama ini kita hanya mengenal cerita zombie menegangkan ini sebagai hasil karya sutradara atau novelis luar negeri, karena sepengetahuan saya, belum ada anak negeri yang berani mengeksplorasi tema ini. Sebagian besar novelis Indonesia masih senang berkutat dengan tema percintaan, drama, historikal, atau misteri (yang biasanya bertema hantu).

Tetapi novelis yang satu ini, Satria Satire, memutuskan untuk fokus membuat novel bergenre horor zombie berjudul Zombie Aedes. Sekilas judulnya membuat saya meringis geli: apa tidak ada judul yang lebih bagus dan elegan, gitu? Jujur saja, judulnya agak norak.

Dari judulnya, kita bisa menebak bahwa fenomena zombie di dalam novel ini disebabkan oleh virus yang menyebar melalui nyamuk. Adalah Retron, sebuah produk penangkal nyamuk impor, yang menjadi sebab musabab wabah virus zombie ini. Retron, alih-alih membasmi nyamuk, malah menyebabkan nyamuk termutasi dan menjadi ganas. Nyamuk yang menggigit manusia menularkan keganasannya dalam bentuk virus zombie dan menyebabkan manusia menjadi monster zombie ganas yang aktif memangsa darah dan daging sesamanya. Manusia yang tergigit oleh zombie akan berubah juga dalam kurun waktu kurang dari 3 jam.

Virus zombie melanda dunia seiring dengan penyebaran penjualan Retron ke seluruh dunia. Novel ini memusatkan pada upaya bertahan hidup sekelompok orang di daerah Jabodetabek, utamanya Jakarta, dari serangan para zombie yang ganas, yang sebelumnya sempat dikira sebagai kasus wabah DBD biasa. Sudut pandang novel ini menggunakan sudut pandang orang ketiga dan banyak menggunakan inzet serta informasi waktu dan lokasi yang mendetail. Sekilas gaya penulisan yang berbau seperti criminal investigation ini mirip dengan gaya penulisan Chuck Hogan, novelis yang berkolaborasi dengan sutradara terkenal Guillermo del Toro dalam membuat trilogi novel The Strain, novel yang bertema serupa tetapi tak sama dengan novel ini. Saya sangat menyarankan trilogi novel ini, yang juga sudah diangkat sebagai serial televisi di Amerika, karena sangat bagus dan menarik. Pada akhirnya, hal yang membedakan gaya penulisan Bang Satria dari novelis luar negeri ini adalah kebiasaan orang Indonesia dalam mendramatisir sebagian besar cerita-ceritanya (seperti biasa).

Ada beberapa grup tokoh utama dalam cerita ini, meski cerita banyak berpusat pada pengembangan karakter Bagas dan Aswan. Sejauh ini, kedua karakter tersebut saya anggap sebagai karakter yang memiliki perwatakan yang jelas dan kuat, sedangkan yang lain hanya seperti ‘menjalani hidup apa adanya saja’ alias tidak terlalu banyak pendalaman karakter. Profesor Emil juga menjadi salah satu karakter kuat di kisah ini, meski tetap saja fungsinya lebih sebagai karakter pendukung.

Grup-grup kecil ini bergabung dan berjuang hidup bersama, dengan memupuk harapan bahwa Profesor Emil sebagai ahli virologi akan bisa menciptakan antivirus untuk menangkal wabah zombie tersebut. Kisah dituturkan dengan bahasa yang mengalir lancar, runtut dan penuh aksi, yang tentunya akan membuat kita tegang dan bersemangat untuk terus melanjutkan membacanya (lagi-lagi terbukti, karena saya tidak bisa berhenti membacanya meski harus transit kereta sambil membaca!).

Saya tidak akan panjang lebar menceritakan alur cerita, karena hal tersebut harus kau lakukan sendiri supaya tidak kehilangan gregetnya. Saya akan menyorot beberapa kelemahan novel ini yang saya anggap cukup signifikan dan dapat mengurangi keasyikan membaca novel ini. Tentunya kelemahan tersebut tidak sebanding dengan kekuatan dan kelebihan novel ini, jadi analisis subyektif saya jangan menjadikanmu jera untuk membacanya.

Kelemahan 1: kesalahan ketik yang jumlahnya cukup banyak, yang mengganggu kenyamanan membaca kita. Meski tidak terlalu penting, bagi orang-orang grammar nazi seperti saya, hal ini sangatlah mengganggu. Membuat saya bertanya-tanya: apa sih kerjaan editor di Elex selama mengedit novel ini dulu?! Satu-dua kesalahan ketik merupakan hal yang wajar, tetapi bila kesalahan ketik terjadi hampir setiap sepuluh halaman sekali tentunya akan membuatmu jengkel. Kesalahan ketik yang paling menonjol adalah kesalahan ketik nama di beberapa adegan, misalnya yang tertulis adalah nama si A, sementara di bagian sebelumnya kita sudah diberi tahu bahwa si A seharusnya ada di adegan lain. Kesalahan-kesalahan kecil yang seharusnya ditandai oleh editor dan diperbaiki sama sekali tidak disentuh, seolah-olah novel ini langsung diterbitkan begitu saja tanpa melalui gunting koreksi sang editor. Ketika saya baca bagian informasi buku, saya juga tidak menemukan nama editor yang bersangkutan (jadi rasanya valid juga bila saya menyebut bahwa novel ini lolos terbit tanpa editan -_-).

Kelemahan 2: kebiasaan penulis untuk menuliskan pernyataan atau penjelasan yang bersifat redundant atau tidak perlu. Pembaca bukanlah anak SD yang segala sesuatunya harus diberi penjelasan mendetail terlebih dahulu baru bisa mengerti konsepnya. Justru keasyikan membaca novel fantasi adalah bahwa kita bisa berfantasi mengenai segala hal yang disampaikan penulis di dalamnya. Detail memang perlu untuk memperjelas situasi dan kondisi, serta latar belakang cerita yang bersangkutan, tetapi detail tidak perlu terlalu banyak sehingga terkesan memenuhi ruang/jatah halaman saja. Saya bisa mencontohkannya dalam cukilan berikut ini:

“…hanya ada saya di sini. Tadinya ada dua orang lagi. Staf saya dan seorang fotografer Istana Negara.”

(jeda paragraf lain)

“…Staf saya sudah terinfeksi…” (jeda kalimat lain) “…Staf saya ada di ruang karantina seandainya kalian mau lihat.”

“Staf Anda yang terinfeksi?” tanya Diaz.

Profesor Emil mengangguk sambil menelan air minum. “Dia jadi sampel penelitian saya untuk membuat obat dari wabah ini.”

(Sumber: Halaman 154-155 novel Zombie Aedes).

Kalimat berhuruf tebal seharusnya sudah tidak perlu diketikkan lagi, karena di bagian sebelumnya, Profesor Emil sudah menjelaskan bahwa ia hanya berdua saja dengan stafnya, yang sudah terinfeksi beberapa saat lalu. Jadi kalimat ini merupakan bentuk redundansi yang tidak perlu. Kalimat yang miring dapat digabungkan menjadi sebuah paragraf panjang untuk efisiensi kalimat.

Saya bukanlah ahli tata bahasa, tetapi banyaknya kalimat yang saya rasa tidak perlu di dalam novel ini cukup mengganggu keasyikan saya membacanya.

Sekian saja analisis saya terhadap novel Zombie Aedes ini. Saya sangat senang bahwa ada novelis bangsa yang berani mengusung tema zombie semacam ini menjadi sebuah novel laik baca yang menyenangkan dan menggugah rasa penasaran, tidak kalah dari novel asing. Saya berharap setelah terbitnya novel tersebut, akan banyak bermunculan novel-novel dengan tema senada, yang digarap dengan apik dan berbobot, serta bernilai untuk dibaca dan dikoleksi.

Selamat membaca.

Salam.

Dea.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s